Teror di Balik Program Gizi: Menu MBG di Pandeglang Diduga Dipenuhi Belatung, Publik Murka

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

METROPAGI.COM, PANDEGLANG – Harapan akan asupan sehat bagi anak-anak sekolah mendadak berubah jadi kegelisahan.

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi tameng pencegah stunting, justru menuai sorotan tajam setelah beredar video mengkhawatirkan dari Kabupaten Pandeglang, Banten.

 

Alih-alih menggugah selera, makanan yang disajikan kepada siswa di SDN Cikadu, Desa Cikadu, Kecamatan Cibitung, terlihat dipenuhi belatung hidup.

 

Dalam rekaman yang viral sejak Rabu (1/4/2026), tampak jelas kondisi makanan yang jauh dari kata layak konsumsi—membuat siapa pun yang melihatnya langsung merasa jijik sekaligus geram.

 

Suara perekam dalam video itu pun mencerminkan kepanikan dan kekecewaan.

 

Ia menyoroti banyaknya belatung yang ditemukan, bahkan hingga pada bagian telur yang seharusnya menjadi sumber protein bagi siswa.

 

Insiden ini bukan sekadar persoalan teknis dapur atau kelalaian kecil. Belatung dalam makanan adalah indikator kuat adanya proses pengolahan yang tidak higienis, penyimpanan yang buruk, atau distribusi yang tidak sesuai standar keamanan pangan.

 

Artinya, ada dugaan kuat bahwa sistem pengawasan dalam rantai penyediaan MBG tidak berjalan sebagaimana mestinya.

 

Program yang dibiayai oleh anggaran negara ini semestinya memiliki standar ketat—mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah.

 

Namun, kejadian di Pandeglang ini memunculkan pertanyaan besar: di mana letak pengawasan yang seharusnya menjamin kualitas makanan untuk anak-anak?

 

Reaksi publik pun tak terbendung. Media sosial dibanjiri komentar bernada kecewa dan marah.

 

Banyak yang mempertanyakan transparansi penggunaan anggaran serta menuntut pertanggungjawaban dari pihak penyedia dan pengelola program.

 

Lebih dari sekadar polemik viral, kasus ini menyentuh isu krusial: keselamatan dan kesehatan generasi muda.

 

Anak-anak sekolah bukan objek percobaan kebijakan, melainkan penerima manfaat yang seharusnya dilindungi dengan standar tertinggi.

 

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang menjawab secara rinci bagaimana makanan tersebut bisa lolos hingga dikonsumsi siswa.

 

Publik pun menunggu langkah tegas—bukan sekadar klarifikasi, tetapi audit menyeluruh, evaluasi sistem, hingga sanksi bagi pihak yang terbukti lalai.

 

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa program sebesar MBG tidak cukup hanya baik di konsep.

 

Tanpa pengawasan ketat dan integritas pelaksana di lapangan, niat baik bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi mereka yang seharusnya dilindungi.(Iwan Hermawan)

 

Sumber: Video Viral

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita