METROPAGI.COM, MALUKU – Di tengah hamparan biru Laut Banda, sebuah kapal berlayar bukan sekadar mengangkut penumpang.
Ia membawa harapan bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil Maluku yang selama ini menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.
Wilayah kepulauan seperti Maluku masih bergulat dengan persoalan klasik: jarak antarpulau yang berjauhan, keterbatasan transportasi, hingga minimnya fasilitas medis.
Baca Juga:
Pemkab Bekasi Siap Hadapi Audit LKPD 2025, Transparansi Diuji dalam Pemeriksaan 40 Hari oleh BPK
Dalam kondisi darurat, warga kerap harus menempuh perjalanan berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk mendapatkan penanganan kesehatan.
Menjawab tantangan tersebut, Muhammadiyah melalui Lazismu menghadirkan inovasi layanan kesehatan berupa Klinik Apung Said Tuhuleley—sebuah rumah sakit terapung yang dirancang untuk menjangkau langsung masyarakat di wilayah terpencil.
Klinik ini dibangun di atas kapal jenis yacht berbahan fiberglass yang tangguh menghadapi gelombang Laut Banda.
Baca Juga:
3.346 Jemaah Haji Kabupaten Bekasi Siap Berangkat 2026, Penantian Panjang Hingga 30 Tahun Segera Terbayar
Di dalamnya tersedia fasilitas medis yang cukup lengkap, mulai dari ruang pemeriksaan, layanan kesehatan gigi, peralatan bedah minor, hingga persediaan obat-obatan dan tabung oksigen.
Berbeda dengan layanan kesehatan konvensional, Klinik Apung Said Tuhuleley mengusung konsep “jemput bola”, di mana tenaga medis aktif mendatangi pasien.
Tim relawan yang terdiri dari dokter dan perawat, termasuk dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), rutin berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya untuk memberikan layanan kesehatan gratis.
Baca Juga:
Darah Penjaga Damai Tumpah di Lebanon, MPR RI Desak PBB Bertindak dan Evaluasi Misi TNI
Nama Said Tuhuleley diabadikan sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh Muhammadiyah asal Maluku yang dikenal berdedikasi dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat kecil.
Peluncuran klinik ini di Ambon pada 2017 menjadi simbol keberlanjutan semangat pengabdian tersebut.
Dalam operasionalnya, klinik apung ini melayani berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pengobatan umum, pemeriksaan ibu hamil, edukasi gizi balita, hingga kegiatan sosial seperti sunatan massal.
Untuk pasien dengan kondisi serius, tim medis akan melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan di Kota Ambon.
Namun, misi kemanusiaan ini tidak selalu berjalan mulus. Para tenaga medis kerap dihadapkan pada cuaca ekstrem dan gelombang tinggi Laut Banda.
Bahkan, kapal tak jarang mengalami kerusakan akibat terjangan ombak. Meski demikian, semangat pengabdian membuat mereka terus berlayar.
Lebih dari sekadar layanan kesehatan, kehadiran Klinik Apung Said Tuhuleley juga membawa dampak sosial yang luas.
Para relawan turut memberikan edukasi kepada anak-anak di pulau terpencil, mengajarkan membaca, hingga membagikan buku.
Seluruh layanan diberikan tanpa memandang latar belakang, sebagai wujud nilai kemanusiaan yang inklusif.
Menariknya, operasional klinik ini sebagian besar didukung oleh dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat yang dihimpun melalui Lazismu.
Dengan lebih dari seribu pulau yang tersebar, Maluku memang membutuhkan pendekatan inovatif dalam pelayanan publik.
Klinik Apung Said Tuhuleley menjadi bukti bahwa solusi tidak selalu harus menunggu infrastruktur hadir—melainkan bisa bergerak, mendekat, dan hadir langsung di tengah masyarakat.
Di tengah luasnya lautan, kapal ini menegaskan satu hal sederhana: layanan kesehatan adalah hak setiap manusia, dan harapan selalu menemukan jalannya.(*)
Sumber: Youtube Ahmad Dahlan