KDM Bongkar Biang Matematika Jadi Momok Siswa! Dari Subang, Revolusi Cara Belajar GASING Dimulai

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

SUBANG, METROPAGI.COM – Matematika tak seharusnya menjadi pelajaran yang membuat siswa menunduk sebelum mencoba.

Dari Kabupaten Subang, Jawa Barat, dorongan untuk mengubah wajah pembelajaran matematika mulai digelorakan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi mendorong para guru mengubah pola pembelajaran matematika agar lebih sederhana, menarik, dan menyenangkan bagi peserta didik.

Dorongan tersebut disampaikan saat menghadiri pelatihan metode Gampang, Asyik, dan Menyenangkan (GASING) bagi guru matematika di Aula SMKN 2 Subang, Selasa (15/9/2026).

Pelatihan bertema “Generasi Unggul untuk Jabar Istimewa” itu diikuti para guru matematika dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD, SMP, SMA hingga SMK se-Kabupaten Subang.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Telkomsel dan Gasing Academy sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan numerasi peserta didik di Jawa Barat.

Turut hadir Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang beserta jajaran serta Kepala SMKN 2 Subang.

KDM: Matematika Jangan Lagi Jadi Pelajaran yang Menakutkan

Di hadapan para guru, Dedi Mulyadi menyoroti persoalan yang selama ini melekat pada pembelajaran matematika.

Menurutnya, matematika sering kali sudah dianggap sulit oleh siswa bahkan sebelum mereka benar-benar mempelajarinya.

Pengalaman tersebut, kata KDM, salah satunya muncul karena pola pembelajaran yang membuat matematika terkesan kaku dan menakutkan.

“Sejak saya SD, guru matematika itu kesannya galak. Dengar mata pelajarannya saja, anak-anak sudah malas belajar,” ungkapnya.

Kondisi tersebut dinilai tidak boleh terus dibiarkan. Menurut KDM, perubahan harus dimulai dari ruang kelas dan dari para guru yang menjadi ujung tombak pendidikan.

Ia menegaskan bahwa sistem pembelajaran matematika perlu dievaluasi dan diperbarui agar mampu mengikuti kebutuhan peserta didik.

“Kita akui sistem yang ada sekarang harus dikoreksi. Hari ini saya mencoba ingin mengubah anak-anak Jawa Barat, dimulai dari guru-gurunya dulu. Guru-guru di Jawa Barat mengubah pola pendidikan matematikanya,” tegasnya.

Bagi KDM, guru tidak cukup hanya menguasai rumus dan materi pelajaran. Guru juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang membuat siswa berani mencoba, bertanya, dan tidak takut melakukan kesalahan.

Pendekatan GASING diharapkan menjadi salah satu jalan untuk membangun suasana tersebut.

Targetnya Bukan Sekadar Bisa Berhitung

Perubahan pola pembelajaran matematika tidak semata-mata ditujukan agar siswa mampu menyelesaikan soal.

Lebih jauh, penguatan matematika dan numerasi diharapkan membentuk cara berpikir yang lebih logis, sistematis, dan percaya diri dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Karena itu, KDM berharap guru dan siswa di Jawa Barat mampu meningkatkan kualitas pembelajaran matematika secara bersama-sama.

“Saya ingin anak-anak Jawa Barat, guru matematikanya dan muridnya hebat-hebat,” tandasnya.

Pesan tersebut sekaligus menempatkan guru sebagai aktor penting dalam agenda peningkatan kualitas pendidikan Jawa Barat.

Sebab, perubahan kualitas pendidikan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga oleh bagaimana materi tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang dapat diterima siswa.

Kang Akur: Matematika Harus Berubah dari Momok Menjadi Favorit

Sementara itu, Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi atau Kang Akur menyambut positif pelatihan GASING tersebut.

Ia berharap metode pembelajaran yang mengedepankan unsur gampang, asyik, dan menyenangkan dapat mengubah persepsi siswa terhadap matematika.

“Selama ini matematika menjadi momok bagi sebagian anak-anak. Mudah-mudahan dengan metodologi yang mengasyikkan, matematika bukan menjadi pelajaran yang ditakuti, tetapi disenangi,” ujar Kang Akur.

Menurutnya, kemampuan matematika dan numerasi memiliki posisi penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan.

Matematika tidak hanya diperlukan oleh mereka yang kelak bekerja sebagai guru, insinyur, ilmuwan, akuntan atau profesi lain yang identik dengan angka.

Kemampuan memahami angka dan berpikir logis juga dibutuhkan dalam berbagai bidang kehidupan.

“Masa depan anak kita nanti, apa pun profesinya, matematika menjadi modal untuk bisa menata masa depan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Dari Subang untuk Generasi Unggul Jawa Barat

Pelatihan GASING di Subang menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan paradigma pembelajaran matematika di Jawa Barat.

Pesannya sederhana: matematika harus didekatkan dengan siswa, bukan justru membuat siswa menjauh.

Guru menjadi titik awal perubahan tersebut.

Ketika guru mampu menghadirkan matematika dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami dan menyenangkan, ruang kelas diharapkan tidak lagi menjadi tempat siswa takut menghadapi angka dan rumus.

Sebaliknya, ruang kelas dapat menjadi tempat tumbuhnya rasa ingin tahu, keberanian berpikir, dan kepercayaan diri.

Dari Subang, semangat itu digaungkan: mengubah matematika dari pelajaran yang ditakuti menjadi pelajaran yang disukai.

Sebab, di balik angka dan rumus, ada satu tujuan yang jauh lebih besar—menyiapkan generasi Jawa Barat yang unggul, tangguh, dan mampu menata masa depannya sendiri. (Deny Suhendar)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita