AS Bergejolak: Jutaan Warga Turun ke Jalan, Krisis Energi dan Konflik Global Guncang Kepemimpinan Trump

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

METROPAGI.COM – Tekanan dari dalam negeri dan gejolak global kini bertemu dalam satu titik panas: Amerika Serikat.

 

Dalam beberapa pekan terakhir, gelombang demonstrasi masif mengguncang berbagai kota, menandai salah satu momen paling krusial dalam dinamika politik dan ekonomi negara tersebut.

 

Lebih dari delapan juta warga dilaporkan turun ke jalan, memadati pusat-pusat kota seperti New York dan Los Angeles.

 

Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan luapan ketidakpuasan terhadap lonjakan harga bahan bakar dan arah kebijakan pemerintahan Donald Trump.

 

Kemarahan publik dipicu oleh tekanan ekonomi yang semakin terasa. Harga energi melonjak tajam akibat terganggunya jalur distribusi minyak global, khususnya di Selat Hormuz—urat nadi perdagangan energi dunia.

 

Meski sebelumnya pemerintah menyatakan cadangan minyak nasional cukup aman, realitas di lapangan justru menunjukkan beban hidup masyarakat kian berat.

 

Tak hanya soal ekonomi, ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah juga terus meningkat.

 

Hasil survei menunjukkan mayoritas warga menilai kebijakan luar negeri, khususnya terkait konflik dengan Iran, justru memperburuk stabilitas global.

 

Gelombang tekanan bahkan merambah ke dalam institusi militer. Sejumlah prajurit dilaporkan mengajukan status penolak hati nurani, mencerminkan kegelisahan atas potensi keterlibatan dalam konflik bersenjata yang semakin kompleks.

 

Kritik tajam juga datang dari kalangan politik. Senator Chris Murphy menyebut situasi ini sebagai “bencana yang dapat diprediksi,” sementara tokoh lain memperingatkan potensi pelanggaran hukum internasional.

 

Dari sisi ekonomi global, kekhawatiran kian menguat. CEO BlackRock, Larry Fink, mengingatkan dunia berada di ambang resesi.

 

Ia menggambarkan skenario ekstrem, mulai dari pemulihan yang rapuh hingga lonjakan harga minyak yang bisa menembus 150 dolar per barel.

 

Retaknya dukungan terhadap Trump juga mulai terlihat. Sejumlah figur konservatif yang sebelumnya loyal kini mulai mempertanyakan arah kebijakan pemerintah, terutama dalam menangani konflik luar negeri.

 

Di panggung internasional, kritik terus berdatangan. Perdana Menteri Pedro Sánchez menilai konflik ini berdampak luas terhadap ekonomi global, sementara para pemimpin Eropa lainnya mempertanyakan kejelasan strategi Washington.

 

Aksi solidaritas pun meluas lintas negara, dari London hingga Tel Aviv, memperlihatkan bahwa sentimen anti-perang kini telah menjadi isu global.

 

Tak hanya energi, dampak krisis juga merembet ke sektor lain seperti semikonduktor dan helium—dua komoditas penting bagi industri teknologi dan kesehatan.

 

Gangguan ini menegaskan rapuhnya rantai pasok global di tengah tekanan geopolitik.

 

Sejumlah analis menilai keputusan Trump yang menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran sebagai upaya meredam gejolak pasar. Namun, langkah tersebut juga memunculkan tanda tanya besar terkait konsistensi strategi di antara sekutu.

 

Dengan tekanan yang datang dari berbagai arah—ekonomi, politik, hingga militer—situasi ini dinilai berpotensi memicu perubahan besar dalam tatanan global.

 

Jika konflik terus berlanjut, dunia bukan hanya menghadapi ancaman resesi, tetapi juga pergeseran kekuatan geopolitik yang signifikan.(*)

 

Sumber: Youtube Daftar Populer

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita