LEBAK, METROPAGI.COM – Ketika sebagian orang masih terlelap menjelang fajar, aktivitas tak biasa justru berlangsung di lingkungan SDN 2 Kertaraharja, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak.
Penyebabnya bukan bencana atau keadaan darurat, melainkan sebuah foto “pocong” yang viral dan ramai diperbincangkan warga sepanjang malam.
Gambar yang beredar melalui grup WhatsApp sejak sekitar pukul 00.00 WIB, Sabtu (30/5/2026), memperlihatkan sosok putih yang disebut-sebut muncul di area sekolah.
Dalam hitungan jam, foto tersebut memancing berbagai spekulasi dan menjadi bahan perbincangan warga sekitar.
Namun di tengah ramainya isu mistis itu, Kepala SDN 2 Kertaraharja, Erna Susilawati, S.Pd, memilih merespons dengan cara berbeda.
Ia tidak larut dalam dugaan supranatural, melainkan melihat kemungkinan lain yang lebih rasional dan berpotensi merugikan sekolah.
Sejak pukul 05.00 WIB, Erna bersama penjaga sekolah dan sejumlah warga telah berada di lokasi untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.
“Saya menerima kiriman foto itu tengah malam. Yang terlintas di pikiran saya bukan soal hantu, tetapi jangan-jangan ada orang yang sengaja membuat suasana takut untuk menutupi niat lain, misalnya pencurian,” ujar Erna.
Menurutnya, fenomena sosok berpakaian putih yang menyerupai pocong bukan hal baru.
Di sejumlah daerah, modus serupa pernah digunakan pelaku kejahatan untuk menakut-nakuti warga agar enggan keluar rumah sehingga lingkungan menjadi sepi dan mudah dijadikan sasaran.
Berangkat dari pertimbangan tersebut, pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh.
Ruang kelas, kantor guru, gudang penyimpanan, toilet, hingga area belakang sekolah diperiksa satu per satu.
Kondisi pintu, jendela, perangkat elektronik, dan inventaris sekolah juga menjadi perhatian utama.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi sekolah tetap aman. Tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan, upaya pembobolan, maupun kehilangan barang.
“Alhamdulillah semuanya aman. Tidak ada barang yang hilang dan tidak ada bekas pencurian. Kemungkinan besar foto itu hanya efek visual dari pantulan cahaya, sudut pengambilan gambar, atau objek tertentu yang terlihat berbeda saat malam hari,” jelasnya.
Alih-alih memperbesar isu yang belum jelas kebenarannya, Erna justru menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya berpikir kritis dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.
Ia mengingatkan bahwa foto atau video yang beredar di media sosial maupun aplikasi percakapan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.
Informasi yang tidak diverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan, kesalahpahaman, bahkan dampak psikologis bagi anak-anak.
“Masyarakat perlu lebih bijak menerima informasi. Jangan langsung percaya atau menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Yang paling penting adalah menjaga kewaspadaan dan memastikan lingkungan tetap aman,” katanya.
Langkah cepat yang dilakukan pihak sekolah pun mendapat apresiasi dari warga.
Mereka menilai tindakan tersebut menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab dalam menjaga aset pendidikan sekaligus memberikan ketenangan kepada masyarakat.
Peristiwa viral “pocong” di SDN 2 Kertaraharja akhirnya berakhir tanpa kejadian yang merugikan. Namun dari peristiwa sederhana itu, muncul pelajaran penting bahwa di era digital, keberanian untuk memeriksa fakta sering kali jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar mempercayai kabar yang beredar. (Iwan H)