Home Budaya

Seren Taun Cisitu Berlangsung Khidmat, Sinergi JBB, Aparat, dan Masyarakat Adat Jaga Warisan Budaya Banten

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

LEBAK, METROPAGI.COM – Tradisi boleh berusia ratusan tahun, tetapi semangat yang menghidupkannya tidak pernah menua. Itulah yang terlihat dalam perhelatan Seren Taun Kasepuhan Adat Cisitu di Kabupaten Lebak, Banten.

 

Di tengah derasnya arus modernisasi, ribuan masyarakat kembali berkumpul merawat warisan leluhur melalui ritual penuh makna yang berlangsung khidmat, aman, dan sarat nilai kebersamaan.

 

Tabuhan Rengkong mengalun memecah kesunyian pagi. Denting Angklung Buhun menyatu dengan langkah kaki masyarakat adat yang memikul bakul-bakul berisi padi menuju Pendopo Kasepuhan.

 

Satu per satu mereka berjalan perlahan, menghadirkan suasana yang bukan sekadar prosesi adat, tetapi juga potret kecintaan terhadap tradisi yang diwariskan lintas generasi.

 

Ribuan masyarakat memadati kawasan Kasepuhan Adat Cisitu, Kabupaten Lebak, Minggu (12/7/2026), untuk mengikuti Seren Taun, tradisi tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

 

Seren Taun bukan hanya perayaan panen. Bagi masyarakat adat, tradisi ini adalah identitas, doa, dan pengingat bahwa kehidupan harus selalu berjalan selaras dengan alam.

 

Di balik kekhidmatan prosesi tersebut, terdapat kerja sama berbagai elemen masyarakat yang memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib tanpa mengurangi nilai-nilai sakral yang dijunjung tinggi.

 

Salah satunya datang dari Jawara Banten Bersatu (JBB), organisasi kemasyarakatan asli Banten yang kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelancaran kegiatan budaya.

 

Bersama panitia penyelenggara, personel Polsek Cibeber, dan Koramil Cibeber, anggota JBB mengawal seluruh rangkaian acara sejak awal hingga selesai.

 

Rangkaian Seren Taun dimulai pada Sabtu malam (11/7/2026) melalui pesta hiburan rakyat di Lapangan Kasepuhan Cisitu.

 

Ribuan warga larut dalam kemeriahan pertunjukan Tari Jaipongan, Wayang Golek, hingga musik reggae yang menjadi hiburan bagi masyarakat dari berbagai kalangan.

 

Meski suasana berlangsung meriah, pengamanan tetap menjadi perhatian utama. Sejak sore hari, anggota JBB telah bersiaga di berbagai titik untuk mengatur arus kendaraan, mengarahkan pengunjung, mengamankan area panggung, hingga membantu panitia menjaga ketertiban.

 

“Adat harus tetap terjaga, masyarakat juga harus merasa aman dan nyaman menikmati seluruh rangkaian kegiatan. Itu menjadi komitmen kami,” ujar Abah Hani, Satgas JBB DPC Kecamatan Malingping.

 

Memasuki puncak acara pada Minggu pagi, nuansa berubah menjadi lebih sakral. Prosesi Ngarak Padi dimulai dari Imah Gede Kasepuhan menuju Pendopo Kasepuhan.

 

Bakul-bakul berisi padi hasil panen yang dibungkus kain putih dipikul oleh masyarakat adat sebagai simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan.

 

Di sepanjang jalur prosesi, anggota JBB bersama aparat keamanan berdiri di garis terdepan membuka akses jalan, mengatur kerumunan masyarakat, sekaligus memastikan iring-iringan berlangsung tertib sehingga ritual adat dapat berjalan dengan penuh kekhusyukan.

 

Puncak ritual kemudian ditandai dengan penyerahan simbolis benih padi oleh tokoh Dewi Sri kepada Abah H. Yoyo Yohenda atau Abah Uta. Prosesi tersebut melambangkan harapan agar bumi tetap subur, panen semakin melimpah, dan kehidupan masyarakat senantiasa diberkahi.

 

Kekhidmatan semakin terasa ketika Ritual Sawer Buhun dilaksanakan. Selanjutnya, masyarakat adat melaksanakan prosesi Ngampihkeun Pare ka Leuit, yakni memasukkan padi ke dalam leuit atau lumbung adat sebagai simbol rasa syukur sekaligus komitmen menjaga cadangan pangan bagi generasi mendatang.

 

Selama seluruh prosesi berlangsung, pengamanan dilakukan secara humanis. Pendekatan persuasif yang diterapkan JBB bersama aparat keamanan membuat masyarakat dapat mengikuti setiap tahapan acara dengan nyaman tanpa mengganggu jalannya ritual adat.

 

Lebih dari sekadar menjaga keamanan, kehadiran JBB mencerminkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama.

 

Tradisi tidak akan bertahan hanya karena diwariskan, tetapi karena ada masyarakat yang menjaganya, aparat yang mengawalnya, dan organisasi sosial yang bersedia mengabdi tanpa pamrih.

 

Sinergi antara masyarakat adat, panitia penyelenggara, Polsek Cibeber, Koramil Cibeber, dan Jawara Banten Bersatu menjadi fondasi keberhasilan penyelenggaraan Seren Taun Kasepuhan Adat Cisitu tahun ini yang berlangsung aman, tertib, dan penuh makna.

 

Di tengah derasnya perubahan zaman, Seren Taun kembali membuktikan bahwa warisan leluhur bukan sekadar cerita masa lalu.

 

Ia tetap hidup dalam langkah kaki masyarakat yang memikul padi, dalam tabuhan Rengkong yang terus menggema, dan dalam semangat gotong royong yang menjaga budaya Banten agar tetap berdiri kokoh sebagai kebanggaan generasi hari ini dan masa depan. (Iwan H)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita