METROPAGI.COM – Suasana Malam di Kampung Citeureup, Kecamatan Malingping, Lebak, Banten, mendadak pecah oleh tabuhan gendang penca, Selasa Malam, 7 April 2026.
Bukan ada pesta pernikahan atau khitanan, melainkan iring-iringan sorak warga mengarak sesuatu yang tak biasa: gotongan batang pohon pisang yang dihias menyusuri jalan kampung.
Bukan pengantin yang diarak, tapi sambutan untuk warga yang rujuk kembali setelah bercerai.
Dalam video yang beredar luas sejak semalam, terdengar seorang warga berseru dengan logat khas:
“Adat Tradisi Citeureup, semalam ada tiga gotongan menyambut kedatangannya… yu lanjutkan, lanjut! tiga ini semalam beneran bos tuh, Rame!” — disambut sorak dan tawa warga yang ikut mengiringi arak-arakan menyusuri jalan.
Bukan Hajatan, Tapi “Hukuman” yang Manis
Menurut keterangan warga setempat, tradisi ini bukan tertulis di adat resmi, melainkan inisiatif sosial yang sudah turun-temurun.
Kalau ada pasangan suami-istri yang sempat bercerai lalu memutuskan rujuk, warga berinisiatif menggelar arak-arakan malam hari ke rumah mereka.
Puncaknya adalah pajangan dari batang pisang — dihias janur, ada plastik warna merah, dan kadang diselipi hasil bumi.
Iringan gendang penca — musik khas Banten yang biasanya mengiringi silat atau hajatan — membuat suasana makin meriah, seolah pasangan itu “menikah lagi” di mata kampung.
Kenapa Pohon Pisang?
Pilihan pohon pisang bukan sembarangan.
Dalam filosofi (Sunda) Banten, pisang itu sekali berbuah lalu mati, tapi sebelum mati meninggalkan tunas baru.
Pesannya jelas: pernikahan boleh “mati” sekali (cerai), tapi kalau tumbuh lagi harus lebih kuat, dan meninggalkan tunas (keturunan/rumah tangga) yang baik.
Setelah diarak keliling kampung, pajangan pisang itu disimpan di depan rumah pasangan yang rujuk, dibiarkan beberapa hari sebagai “pengumuman” sekaligus pengingat.
Warga yang lewat biasanya tersenyum, ada yang mampir mengucapkan selamat, ada juga yang menggoda: “Jangan balikan lagi ke pengadilan ya!”
Tradisi yang Menjaga, Bukan Menghakimi
Yang menarik, tradisi ini tidak bermaksud mempermalukan.
Justru sebaliknya — warga Citeureup menganggap rujuk adalah kabar baik yang layak dirayakan, sama seperti kelahiran atau pernikahan.
Dengan diarak ramai-ramai, pasangan itu “diterima kembali” secara sosial, dan diberi sinyal: kami mendukung, tapi jaga baik-baik kali ini.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan
“Daripada jadi bahan gosip di warung, mending sekalian kita rayakan. Biar anak-anak juga tahu, berpisah itu berat, balikan itu harus diusahakan.”
Viral karena Langka
Video arak-arakan pohon pisang dengan gendang penca malam itu langsung menyebar di grup WhatsApp dan TikTok warga Lebak.
Banyak yang baru tahu kalau tradisi “nyambut rujuk” seperti ini masih hidup.
Komentar netizen beragam: ada yang bilang lucu, ada yang terharu, “Salut sama kekompakannya. Di kota mah rujuk juga tetangga nggak tahu.”
Malam itu, warga Citeureup tidak tidur cepat. Bukan karena hajatan pengantin, tapi karena merayakan kembalinya satu rumah tangga — dengan cara khas Citeureup: ramai, berisik, pakai gendang, dan diakhiri dengan pajangan pohon pisang di depan pintu. (Iwan Hermawan)
Sumber: Video Warga