METROPAGI.COM, JAKARTA – Jauh dari hiruk pikuk medan konflik, dampak perang justru diam-diam menyusup hingga ke kantong belanja masyarakat.
Bukan lewat suara ledakan, melainkan lewat kenaikan harga plastik yang kini mulai terasa di pasar tradisional hingga pelaku UMKM.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu gangguan besar pada rantai pasok global.
Salah satu efek paling signifikan adalah tersendatnya distribusi nafta—bahan baku utama industri petrokimia yang menjadi fondasi produksi plastik.
Situasi semakin memburuk setelah jalur vital Selat Hormuz mengalami gangguan. Jalur ini selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia, termasuk bahan baku industri plastik.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor nafta dari kawasan Timur Tengah menjadi tantangan besar di tengah konflik yang berkepanjangan.
“Pemerintah sudah mencari alternatif pasokan dari Afrika, India, dan Amerika. Namun proses peralihan distribusi ini membutuhkan waktu,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Harga Melonjak, Pelaku Usaha Terjepit
Lonjakan harga plastik kini bukan sekadar angka statistik, tetapi realitas yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha di berbagai daerah.
Di Sukoharjo, Jawa Tengah, harga gelas plastik melonjak hingga 80 persen. Sementara di Banjarbaru, tepatnya Pasar Bauntung, harga per dus naik drastis dari Rp280.000 menjadi Rp500.000.
Kondisi serupa juga terjadi di Majalengka, di mana harga plastik per kilogram melonjak dari Rp17.000 menjadi Rp27.000 dalam waktu singkat. Kenaikan ini memicu keluhan dari pedagang dan pembeli yang sama-sama terdampak.
Efek Domino: UMKM hingga Konsumen
Kenaikan harga plastik membawa efek berantai yang tidak bisa dihindari. Pelaku UMKM mulai mencari cara bertahan, dari mengurangi penggunaan plastik hingga menggabungkan kemasan untuk menekan biaya produksi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia, Alphonzus Widjaja, menegaskan bahwa pelaku usaha saat ini masih berupaya menahan kenaikan harga, namun situasi ini tidak bisa berlangsung lama.
“Harga pasti akan naik. Yang paling terdampak adalah masyarakat kelas menengah ke bawah,” katanya.
Beberapa produk bahkan telah mengalami kenaikan harga hingga 20 persen akibat mahalnya biaya kemasan.
Ancaman Inflasi di Tengah Daya Beli Melemah
Kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada produsen, tetapi juga berpotensi memicu inflasi, terutama pada produk kebutuhan sehari-hari seperti makanan kemasan, minyak goreng, dan deterjen.
Situasi ini semakin kompleks karena sektor ritel tengah memasuki fase low season pasca Lebaran, di mana daya beli masyarakat cenderung menurun.
Jika kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan II dan III berpotensi semakin besar.
Strategi Bertahan: Kreativitas Jadi Kunci
Di tengah tekanan, pelaku usaha mulai berinovasi untuk tetap bertahan. Beberapa strategi yang dilakukan antara lain:
1. Mengurangi ukuran kemasan tanpa mengorbankan kualitas
2. Beralih ke bahan alternatif non-plastik
3. Menerapkan kebijakan plastik berbayar
4. Meningkatkan efisiensi produksi
Langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa krisis juga dapat mendorong lahirnya kreativitas dan adaptasi.
Menanti Stabilitas, Menghindari Krisis Baru
Harapan kini bertumpu pada meredanya konflik global dan pulihnya rantai pasok internasional. Stabilitas harga bahan baku menjadi faktor kunci untuk menjaga keberlangsungan usaha dan daya beli masyarakat.
Jika tidak segera diatasi, lonjakan harga plastik berpotensi menjadi krisis baru yang merambat luas—dari industri besar hingga warung kecil di sudut kampung.(*)
Sumber: Youtube Kompas TV Medan