METROPAGI.COM – Di tengah gemerlap kehidupan urban dan ketatnya persaingan karier, dua milenial memilih jalur yang tak lazim: meninggalkan prestise untuk kembali menyatu dengan alam.
Melvin, mantan pilot maskapai nasional, bersama Egar, eks musisi dan gitaris, memutuskan berhenti dari dunia yang membesarkan nama mereka.
Kini, keduanya menapaki kehidupan baru sebagai pegiat pertanian berbasis permakultur melalui kebun yang mereka dirikan, “Pangku Alam”.
Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan hidup mereka. Dari yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang pertanian, Melvin dan Egar justru menemukan makna baru dalam kesederhanaan.
“Dulu kami benar-benar anak kota. Jangankan berkebun, mengenal tanaman saja tidak. Tapi setelah dijalani, ini bukan sekadar soal menanam, melainkan cara menjalani hidup,” ujar Egar saat ditemui, Selasa (14/4/2026).
Konsep permakultur yang mereka terapkan tidak hanya berfokus pada teknik bercocok tanam, tetapi juga mengedepankan keseimbangan ekosistem.
Di kebun tersebut, berbagai elemen saling terintegrasi, mulai dari bedengan sayur, lubang biopori untuk resapan air, kolam ikan sebagai penyeimbang, hingga pengolahan limbah organik menjadi kompos alami.
Bahkan, keberadaan ayam dan cacing turut menjadi bagian penting dalam menjaga kesuburan tanah.
“Kami belajar bahwa tanah yang sehat menghasilkan pangan yang sehat. Dari situ, kami mulai mengurangi ketergantungan pada pasar,” kata Melvin.
Lebih dari sekadar aktivitas bertani, perjalanan ini juga membawa keduanya pada pencarian makna hidup yang lebih dalam.
Bagi Melvin, keputusan meninggalkan dunia penerbangan tidak lepas dari refleksi tentang peran manusia dalam menjaga bumi.
“Dari berbagai ajaran yang saya pelajari, semuanya mengarah pada satu hal: manusia dititipkan bumi untuk dijaga. Permakultur menjadi salah satu cara kami menjalaninya,” tuturnya.
Kini, kebun “Pangku Alam” tidak hanya menjadi ruang produksi pangan, tetapi juga pusat pembelajaran terbuka.
Melvin dan Egar aktif mengedukasi generasi muda di sekitar desa untuk mengenal pertanian, mulai dari teori hingga praktik langsung seperti menyemai benih dan merawat tanaman.
Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemandirian pangan sekaligus membangun semangat kolaborasi di masyarakat.
“Dulu hidup kami cenderung konsumtif. Sekarang justru belajar hidup cukup. Bahkan sayur yang bolong itu lebih sehat karena alami,” ujar Egar sambil tersenyum.
Bagi keduanya, berkebun bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan ruang untuk healing, refleksi diri, dan cara sederhana untuk kembali terhubung dengan alam.
Dari sebidang tanah yang mereka rawat, Melvin dan Egar menanam harapan: agar semakin banyak orang berani kembali ke alam, menjaga keseimbangan, dan mewariskan bumi yang lebih sehat bagi generasi mendatang. (DeHa Aja)
Sumber: Youtube Bumiku Satu