LEBAK, METROPAGI.COM – Malam Idul Adha di pelosok Kampung Gintungpasar, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, terasa berbeda.
Tidak ada gemerlap pesta atau kemewahan yang berlebihan. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir suasana hangat yang sulit ditemukan di tempat lain.
Menjelang malam 10 Zulhijjah 1447 Hijriah, Selasa (26/5/2026), warga mulai berdatangan ke Mushola Al-Ikhsan sambil membawa besek berisi nasi dan lauk pauk.
Langkah demi langkah mereka menuju mushola bukan sekadar memenuhi tradisi tahunan, tetapi juga membawa semangat kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.
Di halaman mushola, besek-besek tersusun rapi. Aroma masakan rumahan bercampur dengan suara sapaan hangat antarwarga yang sudah seperti keluarga besar.
Sebelum gema takbir menggema, masyarakat lebih dulu menggelar riungan dan doa bersama sebagai ungkapan syukur menyambut Hari Raya Idul Adha.
Tradisi itu menjadi momen yang selalu dinantikan warga. Setelah doa dipanjatkan, seluruh makanan yang terkumpul dibagikan kembali secara merata untuk dibawa pulang.
Tidak ada perbedaan, semua mendapat bagian yang sama sebagai simbol persaudaraan dan rasa syukur.
“Kalau Idul Fitri biasanya lebih ramai dan meriah, Idul Adha di kampung kami justru terasa lebih hangat. Kebersamaan warga sangat terasa lewat tradisi seperti ini,” ujar salah seorang warga.
Bagi masyarakat Gintungpasar, besek bukan sekadar wadah makanan. Di balik anyaman bambu sederhana itu tersimpan nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan budaya berbagi yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Tradisi membawa besek ke mushola menjelang malam takbiran disebut sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan tetap dipertahankan hingga sekarang.
Warga meyakini kebiasaan sederhana itu menjadi perekat hubungan sosial di tengah perubahan zaman.
Usai riungan selesai, suasana kampung perlahan dipenuhi gema takbir. Anak-anak, remaja, hingga orang tua bersama-sama mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil dengan penuh khidmat.
Lampu-lampu kampung yang menyala temaram berpadu dengan lantunan takbir menciptakan suasana religius yang hangat dan menenangkan.
Malam Idul Adha di Kampung Gintungpasar pun berubah menjadi potret indah tentang bagaimana tradisi, kebersamaan, dan nilai religius masih hidup kuat di tengah masyarakat pedesaan.
Warga berharap tradisi riungan dan berbagi besek ini tetap lestari serta terus diwariskan kepada generasi muda agar nilai kebersamaan dan budaya saling berbagi tidak hilang ditelan zaman. (Iwan H)