BEKASI, METROPAGI.COM – Permukaan air di Kabupaten Bekasi berubah menjadi arena edukasi sekaligus simulasi kesiapsiagaan bencana dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB).
Tidak sekadar lomba olahraga, kegiatan ini menjadi sarana uji kemampuan relawan dalam menghadapi situasi darurat secara cepat dan tepat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi menggelar lomba dayung yang diikuti ratusan peserta dari berbagai unsur, mulai dari Desa Tangguh Bencana (Destana), Kampung Tangguh Bencana (Katana), hingga komunitas relawan kemanusiaan.
Kegiatan ini dirancang sebagai simulasi lapangan untuk mengasah ketangkasan, kekompakan, serta kemampuan pengambilan keputusan dalam kondisi darurat kebencanaan.
peserta dituntut untuk mampu bekerja sama secara solid, menjaga koordinasi tim, dan tetap sigap menghadapi tekanan situasi yang menyerupai kondisi bencana sesungguhnya.
Tiga kategori yang diperlombakan, yakni dayung cepat, dayung challenge, dan penyebrangan basah, menjadi representasi berbagai skenario evakuasi dan mobilisasi saat terjadi bencana di lapangan.
Dari rangkaian kompetisi yang berlangsung ketat dan penuh semangat tersebut, Destana Desa Pasirsari berhasil mencatat prestasi membanggakan dengan meraih Juara 1 pada kategori penyebrangan basah.
Capaian ini sekaligus menjadi bukti nyata efektivitas pelatihan dan kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa.
Kepala Desa Pasirsari, H. Suparta, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kekompakan serta komitmen para relawan dalam membangun budaya siaga bencana di lingkungan desa.
Senada, Ketua BPD Desa Pasirsari, Uwan Sudirat, turut menyampaikan rasa bangganya.
Menurutnya, kemenangan tersebut bukan sekadar prestasi dalam lomba, melainkan simbol meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Bekasi menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi edukasi kebencanaan berbasis partisipasi masyarakat.
Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan aplikatif, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu bertindak cepat dan tepat saat menghadapi keadaan darurat.
Momentum HKB ini menjadi pengingat bahwa ketangguhan daerah tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui latihan berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor, dan kesadaran kolektif dari tingkat komunitas.
Dengan semangat gotong royong, Kabupaten Bekasi diharapkan semakin siap dan tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang. (DeHa Aja)