Wakapolri Prediksi Pemudik Tahun Ini Menurun 2 Juta Orang Dibanding Tahun Sebelumnya

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA — Tradisi mudik Lebaran yang selalu menjadi momen besar bagi masyarakat Indonesia diperkirakan sedikit berbeda pada tahun 2026. Pergerakan masyarakat saat libur Idulfitri diprediksi mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, aparat keamanan tetap menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk memastikan perjalanan pemudik berjalan aman dan lancar.

 

Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Dedi Prasetyo mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei Kementerian Perhubungan, jumlah masyarakat yang akan melakukan perjalanan selama Lebaran 2026 diperkirakan mencapai sekitar 143,9 juta orang.

 

Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang tercatat mencapai 146,4 juta orang. Artinya, terdapat penurunan sekitar 2,57 juta orang atau 1,75 persen dari total pergerakan masyarakat pada musim mudik sebelumnya.

 

“Dari hasil survei Kementerian Perhubungan, jumlah pergerakan masyarakat tahun ini diperkirakan 143,9 juta orang. Angka ini menurun sekitar 2,57 juta dibandingkan tahun 2025,” ujar Dedi usai rapat koordinasi lintas sektoral Operasi Ketupat 2026 di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan.

 

Meski terjadi penurunan secara prediksi, Polri menegaskan seluruh jajaran tetap disiagakan. Antisipasi dilakukan karena pengalaman menunjukkan bahwa realisasi di lapangan kerap berbeda dengan hasil survei.

 

“Namun demikian, kita tetap perlu mengantisipasi apabila terjadi peningkatan dalam realita pergerakan,” tambahnya.

 

Sementara itu, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo menyebutkan bahwa puncak arus mudik Lebaran tahun ini diperkirakan terjadi dalam dua gelombang pada pertengahan Maret.

 

Gelombang pertama diprediksi terjadi pada 14–15 Maret 2026, ketika sebagian besar masyarakat mulai meninggalkan kota-kota besar menuju kampung halaman.

 

Setelah itu, pemerintah berencana menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada 16–17 Maret, yang memungkinkan sebagian pekerja tetap bekerja dari lokasi mana pun. Kebijakan ini diperkirakan memicu puncak arus mudik kedua pada 18–19 Maret 2026.

 

Skema dua gelombang ini diharapkan dapat mengurai kepadatan lalu lintas yang biasanya memuncak menjelang hari raya. Dengan penyebaran waktu keberangkatan, arus kendaraan di berbagai jalur mudik diharapkan lebih terkendali.

 

Bagi jutaan masyarakat Indonesia, mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Ia adalah tradisi panjang yang menyatukan keluarga, mempertemukan rindu, dan menghadirkan suasana kebersamaan setelah setahun berpisah oleh rutinitas pekerjaan dan kehidupan kota.

 

Karena itu, meskipun jumlah pemudik diprediksi sedikit menurun, skala pergerakan manusia selama Lebaran tetap menjadi salah satu mobilitas terbesar di Indonesia setiap tahunnya. Aparat dan pemerintah pun terus berupaya memastikan perjalanan pulang kampung itu tetap aman, nyaman, dan penuh makna bagi masyarakat. ( anandita)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita