Home Daerah

Seren Taun Cisitu 2026, Warisan Leluhur 341 Tahun yang Mengajarkan Ketahanan Pangan dan Harmoni dengan Alam

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

LEBAK, METROPAGI.COM – Ketika banyak daerah mulai mencari solusi menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim, masyarakat adat Kasepuhan Cisitu di Kabupaten Lebak telah lebih dahulu mempraktikkan konsep ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan selama lebih dari tiga abad.

 

Nilai-nilai itu kembali ditegaskan dalam puncak perayaan Seren Taun 2026 yang digelar di Kasepuhan Adat Cisitu, Desa Situmulya dan Desa Kujangsari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Minggu (12/7/2026).

 

Ribuan masyarakat adat, warga, hingga tamu undangan memadati kawasan adat untuk mengikuti prosesi sakral yang telah diwariskan sejak tahun 1685.

 

Selama sepekan, mulai 6 hingga 13 Juli 2026, Seren Taun menjadi ruang perjumpaan antara warisan leluhur dengan tantangan zaman.

 

Di tengah derasnya modernisasi, masyarakat adat Cisitu menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan pedoman hidup yang tetap relevan dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

 

Tahun ini, Seren Taun mengangkat falsafah Sunda “Noong lalakon katukang, naratas jalan kahareup, pikeun mageuhan tradisi, nyumponan alam kiwari,” yang bermakna melihat jejak masa lalu, merintis jalan ke depan, serta menjaga tradisi agar tetap selaras dengan kondisi alam masa kini.

 

Falsafah tersebut menjadi ruh seluruh rangkaian kegiatan. Bagi masyarakat Kasepuhan Cisitu, Seren Taun bukan hanya perayaan panen, tetapi juga ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan sesama.

 

Prosesi Ngarak Hasil Bumi Sarat Makna

 

Sejak pagi hari, suasana khidmat menyelimuti kawasan Kasepuhan. Prosesi Ngarak Hasil Bumi dimulai dari Imah Gede Kasepuhan dengan iring-iringan masyarakat adat yang memikul bakul berisi padi hasil panen.

 

Bakul-bakul tersebut ditutup kain putih sebagai simbol kesucian, amanah, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

 

Alunan Angklung Buhun dan dentuman Rengkong mengiringi perjalanan rombongan, menghadirkan nuansa tradisi yang masih terjaga hingga kini.

 

Prosesi semakin bermakna dengan hadirnya tokoh Dewi Sri, simbol kesuburan dalam tradisi agraris Sunda. Benih padi yang dibungkus kain putih kemudian diserahkan kepada pimpinan adat, Abah H. Yoyo Yohenda atau Abah Uta, sebagai lambang harapan agar tanah tetap subur, hasil panen melimpah, dan keberkahan senantiasa menyertai masyarakat.

 

Di tengah perjalanan, rombongan juga disambut Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya dan eksistensi masyarakat adat.

 

Setibanya di pendopo adat, seluruh hasil bumi diserahkan kepada Abah Uta sebagai amanah untuk dijaga demi keberlangsungan kehidupan masyarakat.

 

Sawer Buhun, Doa untuk Alam dan Generasi Mendatang

 

Rangkaian berikutnya adalah Ritual Sawer Buhun, salah satu prosesi paling sakral dalam Seren Taun. Dipimpin pemangku adat, doa-doa dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan di tengah kepulan asap kemenyan yang memenuhi area ritual.

 

Dalam suasana hening, petuah-petuah leluhur kembali diingatkan kepada seluruh masyarakat. Salah satunya melalui ungkapan “Tanhankamuni tanhana make”, pesan moral yang mengajarkan manusia agar tidak serakah, selalu bersyukur, serta memanfaatkan hasil bumi secara bijaksana demi keberlangsungan generasi yang akan datang.

 

Abah Uta menegaskan bahwa Seren Taun merupakan wujud nyata kecintaan masyarakat adat terhadap tanah, air, dan padi sebagai sumber kehidupan.

 

“Seren Taun ieu bukti yen urang masih mikanyaah ka taneuh, ka cai, jeung ka pare. Lamun adat jeung alam urang dijaga, insyaAllah ketahanan pangan urang oge bakal aman,” ujarnya.

 

Leuit, Simbol Kemandirian Pangan

 

Puncak prosesi ditandai dengan Ngampihkeun Pare ka Leuit, yakni menyimpan padi ke dalam lumbung adat.

 

Bagi masyarakat Kasepuhan Cisitu, leuit bukan sekadar tempat penyimpanan hasil panen, melainkan simbol kemandirian pangan, penghormatan terhadap hasil bumi, sekaligus warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi.

 

Di tengah ancaman krisis pangan global, filosofi leuit menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada besarnya produksi, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengelola, menyimpan, dan memanfaatkan hasil panen secara bijaksana.

 

Seni Budaya Meriahkan Seren Taun

 

Selain prosesi adat, Seren Taun 2026 juga dimeriahkan berbagai perlombaan dan pertunjukan seni budaya sejak 6 Juli 2026.

 

Puncak hiburan digelar pada Minggu malam dengan penampilan Tari Jaipongan, Wayang Golek, hingga konser musik reggae yang berhasil menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

 

Seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berakhir pada Senin (13/7/2026).

 

Perayaan Seren Taun Cisitu tahun ini kembali menegaskan bahwa adat bukan sekadar tradisi yang diwariskan, tetapi nilai kehidupan yang terus dijalankan.

 

Dari lumbung-lumbung padi yang tersimpan di leuit hingga doa-doa yang dipanjatkan dalam Ritual Sawer Buhun, masyarakat adat Cisitu menyampaikan pesan yang tetap relevan hingga kini: menjaga adat berarti menjaga alam, dan menjaga alam merupakan investasi terbaik untuk mewujudkan ketahanan pangan bangsa di masa depan. (Iwan H)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita