Dari Kandang ke Kemandirian: BumDes Berdikari Pasirsari Pacu Ekonomi Desa Lewat “Emas Putih” Telur Ayam

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

BEKASI, METROPAGI.COM – Di balik deretan kandang sederhana di Desa Pasirsari, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, geliat ekonomi desa justru tumbuh dengan cara yang tak terduga.

 

Bukan dari proyek besar atau investasi raksasa, melainkan dari rutinitas harian: telur-telur ayam yang terus menetas menjadi harapan baru bagi kemandirian desa.

 

Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Berdikari Pasirsari kini menemukan ritme terbaiknya melalui sektor peternakan ayam petelur—unit usaha yang terbukti paling stabil di tengah dinamika ekonomi desa.

 

Bersama pengembangan wisata “Eko Wisata Bambu Kuning”, BumDes ini mulai memetakan arah baru, meninggalkan sektor perikanan yang dinilai kurang optimal.

 

Direktur BumDes Berdikari Pasirsari, Asep Muhammad S, mengungkapkan bahwa peternakan ayam petelur menjadi tulang punggung usaha karena mampu menghasilkan pemasukan rutin setiap hari.

 

“Ini usaha yang paling terasa hasilnya. Setiap hari ada produksi, setiap hari juga ada pemasukan,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (20/4/2026).

 

Saat ini, sekitar 500 ekor ayam petelur jenis Lohmann dikelola secara intensif. Jenis ini dikenal tangguh dan mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca panas khas wilayah Bekasi.

 

Dengan usia produktif rata-rata 30 minggu, ayam-ayam tersebut mampu menghasilkan sekitar 25 kilogram telur per hari.

 

Menariknya, seluruh hasil produksi selalu terserap pasar lokal. Dengan harga jual Rp27 ribu per kilogram, permintaan bahkan kerap melebihi pasokan yang tersedia.

 

“Sering kali ada pedagang yang harus antre. Ini menunjukkan peluangnya masih sangat besar,” kata Asep.

 

Meski sempat dilirik untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), keterbatasan kapasitas membuat BumDes masih memprioritaskan kebutuhan masyarakat sekitar.

 

Namun, dari skala yang ada saat ini saja, keuntungan bersih sudah mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan.

 

Angka tersebut dinilai masih sangat potensial untuk ditingkatkan. Jika populasi ayam diperluas hingga 2.000 atau bahkan 3.000 ekor, BumDes optimistis mampu melipatgandakan pendapatan.

 

Langkah progresif ini pun mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa dan Forum BumDes Kabupaten Bekasi. Bahkan, inisiatif serupa mulai diadopsi oleh desa-desa lain seperti Serang, Ciantra, Cibatu, hingga kawasan Tambun Utara dan Sukakarya.

 

Gerakan kolektif ini mengarah pada satu visi besar: menjadikan Kabupaten Bekasi sebagai sentra produksi telur melalui slogan “Bekasi Bertelur”.

 

“Kita ingin ke depan Bekasi bisa mandiri, tidak lagi bergantung pada pasokan luar daerah,” tegas Asep.

 

Namun di balik optimisme tersebut, tantangan tetap mengintai. Fluktuasi harga pakan menjadi salah satu faktor krusial yang dapat mempengaruhi stabilitas usaha.

 

Karena itu, BumDes kini mulai menjajaki alternatif pakan untuk menekan biaya produksi.

 

Lebih dari sekadar bisnis, peternakan ayam petelur ini menjadi simbol transformasi desa—dari yang sebelumnya bergantung, kini perlahan menuju kemandirian.

 

Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi berkelanjutan, bukan tidak mungkin “emas putih” dari Pasirsari akan menjadi fondasi baru ekonomi desa di masa depan. (DeHa Aja)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita