Sedan Hitam di Gang Sempit Cikarang: Jejak Silaturrahim Keluarga Makarim yang Membekas di Hati Warga

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Catatan Kang Elha

 

BEKASI, METROPAGI.COM – Di sebuah gang sederhana di Kompleks Masjid Al-Jihad, Cikarang, Kabupaten Bekasi, pernah tumbuh sebuah tradisi silaturrahim yang hingga kini masih dikenang hangat oleh warga lama kampung tersebut.

 

Setiap Hari Raya tiba, suasana gang kecil itu mendadak berubah lebih hidup dari biasanya. Anak-anak berhenti bermain sejenak. Warga mulai memperhatikan arah jalan utama kampung.

 

Penandanya selalu sama.

 

Sebuah sedan hitam perlahan berhenti di pinggir jalan dekat Masjid Al-Jihad karena ukuran mobil itu tak mungkin masuk ke gang sempit menuju rumah sederhana milik Abdul Hadi Makarim.

 

Bagi masyarakat sekitar, mobil tersebut bukan sekadar kendaraan tamu. Ia seperti penanda bahwa silaturrahim sedang datang mengetuk kampung.

 

Dari dalam sedan hitam itu turun keluarga besar Anwar Makarim—atau yang akrab disapa Ami Anwar—yang datang dari Pekalongan untuk mengunjungi sang kakak di Cikarang.

 

Kunjungan itu bukan hanya tentang hubungan darah antarkeluarga, melainkan juga tentang penghormatan, kesederhanaan, dan ketulusan menjaga ikatan persaudaraan di tengah perbedaan keadaan hidup.

 

Rumah Abdul Hadi Makarim kala itu sangat sederhana. Bahkan rumah tersebut belum memiliki kamar mandi di dalam bangunan utama. Kamar mandi keluarga berada di bagian belakang rumah dengan bentuk setengah terbuka.

 

Namun keterbatasan itu tidak pernah mengurangi kehormatan keluarga tersebut di mata masyarakat kampung.

 

Rumah orang tua penulis sendiri berada tepat di sebelah rumah Abdul Hadi Makarim. Sejak kecil, penulis menyaksikan sendiri bagaimana keluarga Makarim hidup dekat dengan masyarakat tanpa sekat sosial.

 

Ketika keluarga Ami Anwar datang berkunjung, suasana kampung terasa berbeda. Warga sekitar ikut menyambut dengan rasa hormat yang tumbuh alami, bukan dibuat-buat.

 

Sedan hitam yang kala itu tergolong mewah untuk ukuran kampung di pinggiran Bekasi selalu diparkir di dekat Masjid Al-Jihad. Menariknya, tanpa diminta dan tanpa bayaran, jamaah masjid secara sukarela menjaga kendaraan tersebut.

 

Sebagian warga mengawasi dari warung Pak Nawin di seberang masjid. Sebagian lagi memperhatikan dari kios-kios kecil di sekitar jalan. Mereka bergantian memastikan mobil keluarga tamu tetap aman hingga kunjungan selesai.

 

Tidak ada rasa curiga.

 

Tidak ada niat jahil.

 

Yang tumbuh justru rasa hormat kepada keluarga yang tetap menjaga hubungan persaudaraan meski berasal dari kehidupan yang berbeda.

 

Warga kampung melihat sendiri bagaimana keluarga Ami Anwar tetap datang jauh-jauh dari Pekalongan untuk menemui sang kakak yang hidup bersahaja di gang kecil Cikarang.

 

Tidak ada sikap meninggi.

 

Tidak ada jarak sosial yang dipertontonkan.

 

Sikap itulah yang membekas kuat di hati masyarakat.

 

Nama-nama seperti Nono Anwar Makarim dan Zacki Anwar Makarim bahkan telah akrab di telinga anak-anak kampung sejak dahulu. Anak-anak Pak Hadi biasa memanggil mereka dengan sapaan “Mas Nono” dan “Mas Zacki”.

 

Penulis sendiri tidak mengingat apakah Nadiem Makarim pernah ikut dalam rombongan keluarga yang datang ke Cikarang pada masa itu. Namun kenangan tentang keluarga besar Makarim tetap menjadi bagian penting dari memori masa kecil warga sekitar.

 

Ada satu kebiasaan kampung yang kini terasa semakin langka.

 

Meski rumah Pak Hadi sehari-hari menjadi tempat bermain anak-anak sekitar, ketika keluarga besar datang berkunjung, para bocah kampung secara spontan memilih menjauh sementara dari rumah tersebut.

 

Bukan karena diusir.

 

Bukan pula karena takut.

 

Melainkan karena ada rasa sungkan dan tahu diri yang tumbuh alami dalam kehidupan masyarakat kala itu.

 

Kenangan tentang keluarga Makarim ternyata juga membekas kuat dalam ingatan Lukman Hakiem atau yang akrab disapa Kang Elha.

 

Tokoh yang lahir di Cikarang, Bekasi, pada 25 Dzulhijjah 1376 Hijriah bertepatan dengan 23 Juli 1957 itu merupakan tetangga sekaligus teman bermain anak-anak Abdul Hadi Makarim semasa kecil.

 

Sebagai politisi, Kang Elha dikenal pernah menjadi anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada periode 1997–1999 dan 2004–2009. Ia juga pernah dipercaya menjadi Staf Khusus Wakil Presiden Hamzah Haz pada periode 1999–2004.

 

Di mata Kang Elha, keluarga Makarim meninggalkan pelajaran penting tentang keteguhan menjaga hubungan kekeluargaan, kesungguhan merawat harmoni, serta penghormatan tulus yang tidak dipengaruhi perbedaan keadaan ekonomi.

 

Menurutnya, perbedaan kekayaan tidak pernah menyurutkan keluarga tersebut untuk terus menjalin silaturrahim sebagaimana sangat dianjurkan dalam ajaran agama.

 

Ia masih mengingat bagaimana Anwar Makarim yang tinggal di Pekalongan hampir setiap Lebaran menyempatkan diri datang ke Cikarang untuk menemui sang kakak yang hidup sederhana di rumah kecil tanpa fasilitas kamar mandi yang memadai.

 

Bagi Kang Elha, sikap keluarga itulah yang kemudian membuat dirinya tidak heran ketika banyak masyarakat kecil merasa dekat dengan sosok Nadiem Makarim.

 

Ia mencontohkan kisah seorang pengemudi ojek online yang menangis sambil mengucapkan terima kasih kepada Nadiem karena merasa kehidupannya ikut terangkat.

 

Menurut Kang Elha, hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari karakter Nadiem yang mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain.

 

Ketika Nadiem Makarim terseret dalam pusaran isu korupsi, Kang Elha memilih tidak ikut menjadi “jaksa” maupun “pengacara” di ruang publik.

 

Ia meyakini Allah SWT tidak akan tinggal diam apabila hukum dipermainkan untuk kepentingan yang tidak adil.

 

Selain dikenal sebagai politisi, Kang Elha juga merupakan penulis buku biografi tokoh-tokoh politisi dan cendekiawan Muslim Indonesia.

 

Belasan buku biografi telah lahir dari tangannya sebagai sumbangsih bagi khazanah kepustakaan nasional dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Waktu kemudian berjalan.

 

Seiring wafatnya Abdul Hadi Makarim, intensitas kunjungan keluarga besar dari Pekalongan perlahan mulai berkurang.

 

Ada dua hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, setelah Pak Hadi wafat, tidak ada lagi sosok dari wangsa Makarim di Cikarang yang dituakan sebagaimana dirinya dahulu.

 

Kedua, anak-anak Pak Hadi kemudian diasuh oleh keluarga besar dari pihak kerabat lainnya.

 

Choiriah Makarim, putri Abdul Hadi Makarim, sempat diminta Ami Anwar untuk tinggal di Pekalongan. Ia mengikuti keluarga besarnya ke sana. Namun ikatan batin dengan tanah kelahiran rupanya terlalu kuat.

 

Belum genap sebulan meninggalkan Cikarang, Choiriah memutuskan pulang kembali ke kampung halaman.

 

Sejak saat itu ia tinggal di rumah peninggalan ayahnya hingga menikah, membangun keluarga, memiliki anak-anak, sampai akhirnya wafat beberapa waktu lalu.

 

Sementara itu, Taufik Makarim diasuh tantenya di kawasan Pasar Anyar, Bogor. Di Kota Hujan itu ia menempuh pendidikan hingga lulus SMA sebelum akhirnya kembali ke Cikarang saat dewasa.

 

Hingga akhir hayatnya, Taufik tetap tinggal di tanah kelahirannya dan meninggal karena sakit.

 

Dzulkifli Makarim menjadi satu-satunya putra Abdul Hadi Makarim yang mengikuti keluarga ibunya ke Bandung. Sedangkan Zacki Makarim menetap di kawasan Tanjung Priok dan Syarif Hadi Makarim memilih bertahan di Cikarang.

 

Adapun Hilali Makarim menghabiskan sebagian besar hidupnya di Cikarang, menikah, dan dikaruniai dua anak lelaki.

 

Perlahan, suasana Lebaran yang dahulu ramai oleh kedatangan keluarga besar mulai berubah menjadi kenangan.

 

Sedan hitam yang dulu parkir di dekat Masjid Al-Jihad mungkin kini tak lagi terlihat. Jamaah yang dahulu bergantian merondai mobil tamu pun sebagian besar telah menua.

 

Namun bagi warga Kompleks Masjid Al-Jihad, jejak keluarga Makarim tetap hidup dalam ingatan.

 

Bukan karena kemewahan mobil yang mereka bawa, melainkan karena nilai yang mereka tinggalkan: kesederhanaan, penghormatan kepada keluarga, dan hangatnya silaturrahim lintas generasi yang kini terasa semakin langka di tengah kehidupan modern. [*]

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita