Home Daerah

Secangkir Kopi di Saung Bambu: Cara Sederhana Warga Pandeglang Menjaga Harmoni dan Keamanan Negeri

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

PANDEGLANG, METROPAGI.COM – Pagi di Desa Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Minggu (10/5/2026), tidak dibuka dengan bunyi sirene atau pidato panjang penuh formalitas.

 

Yang terdengar justru denting sendok di cangkir kopi, tawa kecil yang bersahutan, dan percakapan hangat di sebuah saung bambu bernama Saung Sang Jurnalis Desa.

 

Di tempat sederhana beratap rumbia itu, suasana terasa lebih jujur dibanding ruang rapat berpendingin udara. Tak ada kursi kehormatan. Tak ada sekat antara aparat, jurnalis, tokoh masyarakat, dan warga.

 

Semua duduk melingkar di lantai semen kasar, menikmati kopi tubruk sambil berbicara tentang satu hal yang belakangan terasa mahal: kepercayaan.

 

Pagi itu, harmoni tidak dibangun lewat instruksi. Ia tumbuh dari obrolan santai yang mengalir tanpa tekanan.

 

Pertemuan sederhana tersebut menjadi ruang refleksi bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat sejatinya bukan hanya tugas aparat, melainkan hasil dari hubungan emosional yang sehat antara warga dan institusi yang melindunginya.

 

Ketua Jurnalis Banten Bersatu, Kasman, menilai komunikasi yang humanis jauh lebih efektif dibanding pendekatan formal yang sering menciptakan jarak sosial.

 

Menurutnya, ketika masyarakat dan aparat mampu duduk bersama tanpa prasangka, maka ruang dialog yang sehat akan tercipta dengan sendirinya.

 

“Kalau aparat dan masyarakat sudah duduk sama rata, kopi sama hitam, yang lahir itu ruang kejujuran,” ujar Kasman sambil tersenyum.

 

Ia menyebut secangkir kopi hanyalah simbol kecil dari hubungan sosial yang lebih besar. Yang paling penting, kata dia, adalah tumbuhnya rasa saling menghormati tanpa kecurigaan.

 

Kasman juga menyinggung peran pers di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu polarisasi. Menurutnya, media memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga suasana tetap sejuk.

 

“Tugas kita bikin berita yang menyejukkan. Yang nggak manas-manasi, tapi justru ngerajut yang sempat renggang,” katanya.

 

Hal senada disampaikan Rohmat. Ia menilai pendekatan dialogis menjadi kebutuhan utama di era keterbukaan informasi saat ini.

 

Menurutnya, masyarakat modern tak lagi ingin sekadar menjadi pendengar, melainkan ingin dilibatkan dalam proses komunikasi sosial.

 

“Sekarang zamannya keterbukaan. Masyarakat pengin didengar, bukan cuma disuruh dengar,” ucap Rohmat.

 

Ia menambahkan, kepercayaan publik terhadap institusi akan tumbuh secara alami ketika masyarakat merasa suara mereka benar-benar diperhatikan.

 

Sementara itu, Sujana melihat tradisi ngopi bareng di saung sebagai warisan budaya masyarakat Banten yang sarat nilai musyawarah dan kebersamaan.

 

Baginya, ruang sederhana justru mampu melahirkan percakapan yang lebih tulus dibanding forum resmi yang sering terasa kaku.

 

“Orang tua kita dulu ngajarin, duduk dulu, ngopi dulu, baru ambil putusan,” tuturnya.

 

Menurut Sujana, rasa memiliki terhadap lingkungan akan tumbuh ketika masyarakat terbiasa berdialog tanpa sekat.

 

“Dari obrolan ringan di saung begini, lahir rasa memiliki. Kalau udah merasa memiliki, orang nggak akan tega ngerusak kampungnya sendiri,” lanjutnya.

 

Di penghujung pertemuan, Heri Ruswandi menegaskan bahwa menjaga keamanan bukan pekerjaan yang bisa dibebankan kepada satu pihak semata.

 

Ia menyebut sinergi antara aparat dan masyarakat harus dirawat terus-menerus, layaknya tanaman yang tumbuh di pekarangan saung.

 

“Keamanan itu kerja bareng. Nggak bisa polisi doang yang jaga,” tegas Heri.

 

“Kalau warga dan aparat udah jalan berdampingan, kondusif itu bonus. Yang utama: kita jadi saudara.”

 

Lebih dari sekadar agenda silaturahmi, pertemuan di Saung Sang Jurnalis Desa menjadi potret kecil demokrasi sosial yang hidup di tengah masyarakat akar rumput.

 

Tanpa podium. Tanpa mikrofon dominan. Tanpa bahasa birokrasi yang berjarak.

 

Yang hadir hanyalah manusia-manusia yang rela mendengar sebelum berbicara.

 

Dan dari saung bambu sederhana di sudut Pandeglang itu, terselip pesan yang terasa begitu kuat: bahwa Indonesia yang damai tidak selalu dibangun dari ruang besar dan megah, melainkan dari kesediaan untuk duduk bersama, menyeruput kopi yang sama hangatnya, lalu menjaga satu sama lain dengan hati yang setara. (Iwan H)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita