BEKASI, METROPAGI.COM – Di sebuah wilayah yang dulu lebih akrab dengan cerita tentang jawara dan kekerasan, hadir seorang ulama yang memilih jalan berbeda: menaklukkan keadaan dengan ilmu dan keteladanan. Dari langkah yang senyap, perubahan besar perlahan tumbuh.
Dialah KH Muhammad Fudholi, sosok kyai zuhud yang mengubah wajah Cikarang dari kawasan penuh tantangan menjadi ladang tumbuhnya nilai-nilai keislaman dan pendidikan.
Lahir di Cicurug, Sukabumi, pada 1901, kehidupan Fudholi sejak awal telah ditempa ujian.
Ia kehilangan ayah di usia sangat muda, lalu dibesarkan oleh sang kakek, H Yusuf, seorang ulama yang menanamkan fondasi keilmuan sekaligus akhlak yang kuat.
Jejak intelektualnya mulai terasah saat menempuh pendidikan di Jamiatul Khoir, Pekojan, Jakarta.
Di sana, ia tak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga menguasai bahasa Arab dan Belanda—kemampuan yang kelak memperluas jangkauan dakwahnya.
Langkah penting dalam hidupnya terjadi saat ia memutuskan hijrah ke Cikarang, Bekasi, bersama KH Affandi.
Saat itu, kawasan tersebut dikenal keras dan dikuasai kelompok jawara. Namun, tantangan justru menjadi ladang dakwah baginya.
Keberanian Fudholi diuji ketika ia diminta menetap selama sebulan di lahan yang dianggap angker sebagai syarat membuka pesantren. Ia menjalani ujian itu dengan keteguhan iman—dan berhasil.
Dari titik sederhana itulah berdiri Pondok Pesantren Madrasah Jannatul Amal pada 1932.
Lembaga ini kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak santri dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah.
Sebagai pendidik, KH Fudholi dikenal disiplin dan tegas, namun tetap mengedepankan kebijaksanaan. Dakwahnya meluas hingga Karawang, Subang, dan Jakarta.
Ia juga dipercaya menjadi pembimbing ibadah haji, menandakan tingginya kepercayaan umat terhadap kapasitasnya.
Tak hanya berdakwah, ia turut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Pernah dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda, menjadi buronan, hingga berkontribusi dalam pembentukan Tentara Republik Indonesia (TRI).
Kiprahnya berlanjut di panggung politik sebagai anggota DPRGR dari Partai Masyumi.
Dalam berbagai situasi sulit, termasuk ancaman dari kelompok ekstrem di masa itu, KH Fudholi tetap teguh pada prinsipnya.
Ia berdiri bersama masyarakat, menjadikan keimanan dan dukungan umat sebagai benteng utama.
KH Muhammad Fudholi wafat pada 26 Januari 1974 sepulang dari ibadah haji. Namun, warisannya tetap hidup.
Pondok Pesantren Madrasah Jannatul Amal terus menjadi pusat pendidikan, sementara makamnya di Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang ulama yang menorehkan perubahan.
Lebih dari sekadar tokoh agama, KH Muhammad Fudholi adalah simbol keberanian yang lahir dari kesederhanaan.
Dari seorang anak yatim di Sukabumi, ia menjelma menjadi cahaya bagi umat—membuktikan bahwa dakwah yang tulus mampu mengubah sejarah. (DeHa Aja)