BANTEN, METROPAGI.COM – Sebelum makanan tersaji di atas meja dan roda ekonomi terus berputar, ada peluh petani yang lebih dulu jatuh ke tanah.
Di bawah sengatan matahari, di tengah hamparan sawah dan perkebunan kelapa sawit, para petani bekerja tanpa banyak sorotan.
Mereka menanam, merawat, memanen, lalu kembali bekerja. Dari tangan merekalah sebagian kebutuhan pangan dan komoditas masyarakat terus mengalir.
Karena itu, Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan.
Momentum tersebut harus menjadi pengingat bahwa keberlangsungan pertanian sangat bergantung pada kehidupan dan kesejahteraan petani itu sendiri.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Banten, H. Wawan, dalam momentum Hari Tani Nasional, Jumat (25/9/2026).
Menurut H. Wawan, petani bukan sekadar pelaku produksi. Mereka merupakan salah satu kekuatan penting yang menopang ketahanan pangan, menggerakkan ekonomi pedesaan, sekaligus menjaga rantai pasok berbagai komoditas strategis.
“Jangan hanya mengenang petani saat Hari Tani saja. Perhatian terhadap petani harus diwujudkan dalam dukungan nyata, agar usaha tani mereka terus hidup dan kesejahteraan mereka meningkat,” ungkap H. Wawan.
Dari Peluh di Kebun, Ekonomi Desa Bergerak
Bagi petani kelapa sawit, kebun bukan sekadar hamparan tanaman. Di sanalah sumber penghidupan keluarga dipertaruhkan.
Dari kebun-kebun rakyat di pelosok Lebak dan Pandeglang, aktivitas perkebunan ikut menghidupkan ekonomi masyarakat.
Hasil kebun menjadi sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, hingga menopang berbagai aktivitas ekonomi di desa.
Namun, di balik kontribusi tersebut, petani sawit masih menghadapi sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian serius.
Harga Tandan Buah Segar (TBS), akses pupuk dan bibit berkualitas, hingga pelaksanaan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi persoalan yang terus membutuhkan pengawalan agar petani tidak berjalan sendirian menghadapi dinamika usaha perkebunan.
H. Wawan menilai, keberpihakan terhadap petani harus terlihat dalam kebijakan dan pelaksanaan di lapangan.
Sebab, ketika petani menghadapi persoalan biaya produksi, produktivitas, harga hasil panen, dan akses program pemerintah, dampaknya bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga keluarga dan ekonomi desa.
APKASINDO Banten Dorong Perlindungan Petani
Dalam konteks tersebut, DPW APKASINDO Provinsi Banten menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi dan memperjuangkan kepentingan petani kelapa sawit.
Perjuangan untuk mendorong harga TBS yang adil dan transparan, memperluas akses terhadap pupuk serta bibit berkualitas, dan mengawal pelaksanaan program PSR menjadi bagian dari perhatian organisasi agar pembangunan sektor perkebunan benar-benar memberikan manfaat hingga tingkat akar rumput.
“Setiap hasil pertanian menyimpan cerita panjang tentang kerja keras. Di balik beras yang tersaji di meja makan hingga minyak sawit yang menjadi salah satu komoditas penting Indonesia, ada perjuangan petani yang berlangsung dari hari ke hari,” kata H. Wawan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk melihat petani bukan hanya dari hasil produksi yang dihasilkan, tetapi juga dari proses panjang yang mereka jalani.
“Mari bersama menghargai setiap usaha dan perjuangan para petani yang terus menjaga pertanian tetap tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Hari Tani Harus Berujung pada Aksi
H. Wawan kembali menegaskan bahwa ukuran penghormatan terhadap petani bukan sekadar ucapan selamat setiap 24 September.
Yang lebih penting adalah sejauh mana perhatian tersebut diterjemahkan menjadi akses, perlindungan, kepastian usaha, pendampingan, serta kebijakan yang mampu memperkuat posisi petani.
Petani membutuhkan ruang untuk berkembang. Mereka membutuhkan kepastian agar hasil kerja kerasnya dapat memberikan kehidupan yang lebih layak bagi keluarga.
Sebab, selama petani masih bekerja dengan penuh ketidakpastian, peringatan Hari Tani belum boleh berhenti pada panggung seremoni.
“Peringatan Hari Tani Nasional jangan berhenti pada seremoni. Ini harus menjadi momentum memperkuat kepedulian dan keberpihakan nyata terhadap petani. Kami ingin petani sawit di Banten semakin berdaya, mendapat perlakuan adil, dan benar-benar sejahtera dari hasil kebun yang mereka perjuangkan dengan peluh sendiri,” pungkas H. Wawan. (Iwan H)