Home › Religi

Maulid Nabi di SDN 2 Kertaraharja Tak Sekadar Seremoni, Pesannya Menohok: Anak Harus Pintar Sekaligus Berakhlak

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

LEBAK, METROPAGI.COM – Pendidikan tidak boleh berhenti pada angka di rapor. Sebab kecerdasan tanpa akhlak berisiko kehilangan arah.

Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di SDN 2 Kertaraharja, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Senin (28/9/2026).

Lantunan ayat suci Al-Qur’an, gema zikir, tawasul hingga doa bersama memenuhi halaman sekolah.

Namun di balik suasana religius tersebut, terselip pesan yang jauh lebih besar: keteladanan Rasulullah SAW harus hidup dalam perilaku, bukan hanya ramai dibicarakan ketika Maulid tiba.

Ratusan orang tua dan wali murid bersama dewan guru, tokoh masyarakat, serta sejumlah unsur pemerintahan desa mengikuti rangkaian kegiatan tersebut dengan khidmat.

Hadir dalam kegiatan itu Kepala Desa Kertaraharja Ipan Hariyanto yang akrab disapa Sapong, Ketua K3S Banjarsari, Ketua Ranting PGRI Kertaraharja, para tokoh masyarakat, jajaran guru serta keluarga besar SDN 2 Kertaraharja.

Rangkaian acara diawali pembacaan hadorot dan tawasul yang dipimpin KH Zamhani. Doa tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus ikhtiar mendoakan para leluhur, guru dan orang tua yang telah mendahului.

Suasana kemudian semakin syahdu ketika Muhamad Hasbi melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Gema zikir La ilaha illallah yang menggema di halaman sekolah seakan menyatukan seluruh peserta dalam satu suasana: mengenang Rasulullah SAW sekaligus menghidupkan kembali pesan-pesan akhlaknya.

Maulid Jangan Berhenti di Atas Panggung

Kepala Desa Kertaraharja Ipan Hariyanto menilai kegiatan Maulid Nabi yang digelar SDN 2 Kertaraharja memiliki nilai penting bagi pembentukan karakter anak.

Baginya, Maulid bukan sekadar agenda tahunan yang selesai ketika panggung dibongkar dan pengeras suara dimatikan.

Lebih dari itu, kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah dapat menjadi sarana memperkuat pendidikan karakter dan menanamkan nilai agama kepada generasi muda.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan Maulid Nabi yang digelar di SDN 2 Kertaraharja. Harapan saya bukan hanya di SDN 2 saja, tetapi bisa juga dilaksanakan di SD-SD lain yang ada di wilayah Desa Kertaraharja,” ujar Ipan Hariyanto.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah.

Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak karena pendidikan yang diterima di ruang kelas harus diperkuat dengan keteladanan di rumah, lingkungan masyarakat maupun pesantren.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang dewasa, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari.

Sekolah Ingin Melahirkan Generasi Berilmu dan Beradab

Kepala SDN 2 Kertaraharja, Erna, mengatakan peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk mengajak para siswa mengenal, mencintai sekaligus meneladani Rasulullah SAW.

“Alhamdulillah, kegiatan Maulid Nabi ini dapat kembali terlaksana. Kami berharap melalui kegiatan ini anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga semakin memahami pentingnya akhlak, sopan santun dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Erna.

Menurutnya, nilai yang disampaikan dalam kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai pesan yang didengar sesaat.

Kejujuran, kesantunan, kepedulian, kedisiplinan dan sikap menghormati orang lain harus tumbuh menjadi kebiasaan.

Sebab sekolah tidak hanya bertugas mencetak anak yang mampu menjawab soal di ruang kelas, tetapi juga mempersiapkan generasi yang mampu bersikap ketika berada di tengah keluarga dan masyarakat.

Tiga Tahun Berturut-turut, Tradisi Baik Terus Dijaga

Ketua Panitia Pelaksana, H. Gilang Nugraha, mengungkapkan rasa syukur karena kegiatan Maulid Nabi di SDN 2 Kertaraharja dapat digelar selama tiga tahun berturut-turut.

Menurut Gilang, kesinambungan kegiatan tersebut tidak lepas dari dukungan seluruh stakeholder sekolah, khususnya para orang tua dan wali murid.

“Alhamdulillah, tiga tahun berturut-turut SD kita telah melaksanakan acara Maulid Nabi. Ini berkat kerja sama semua stakeholder, terutama para orang tua wali murid. Mudah-mudahan amal kebaikan ibu bapak semua menjadi ladang pahala,” kata Gilang.

Tahun ini, panitia mengusung tema “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari.”

Tema tersebut bukan tanpa alasan.

Panitia ingin memastikan Maulid tidak berhenti sebagai ritual tahunan, tetapi mampu melahirkan perubahan dalam perilaku.

“Tujuan kami adalah agar kita semua dapat meneladani akhlak Rasulullah dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Santunan Anak Yatim: Keteladanan yang Diubah Menjadi Kepedulian

Pesan Maulid juga diterjemahkan dalam bentuk nyata melalui pemberian santunan kepada sejumlah anak yatim.

Santunan yang bersumber dari para donatur tersebut diserahkan langsung oleh Kepala SDN 2 Kertaraharja, Erna.

Bagi panitia, berbagi kepada anak yatim merupakan bagian dari semangat meneladani Rasulullah SAW.

Sebab kecintaan kepada Nabi tidak hanya diwujudkan melalui lantunan selawat dan kemeriahan peringatan, tetapi juga melalui kepedulian kepada mereka yang membutuhkan perhatian.

Maulid akhirnya menemukan maknanya ketika rasa cinta kepada Nabi menjelma menjadi kepedulian kepada sesama.

Kiyai Guludug: Cinta Nabi Harus Terlihat dari Perilaku

Puncak kegiatan diisi tausiyah Kiyai Madsuri yang akrab disapa Kiyai Guludug.

Di hadapan jamaah, ia mengajak seluruh peserta menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri teladan dalam menjalani kehidupan.

Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, menurutnya, tidak cukup hanya diucapkan.

Tidak pula cukup dibuktikan dengan hadir dalam peringatan Maulid.

Kecintaan itu harus terlihat dalam perilaku sehari-hari—dari cara berbicara, menghormati orang lain, menjaga kejujuran, bersikap santun hingga memiliki kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut menjadi sangat penting dalam dunia pendidikan.

Sebab ilmu dan akhlak semestinya berjalan beriringan. Anak-anak tidak cukup hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki adab, kejujuran, kesantunan dan kepedulian sosial.

Dari Halaman Sekolah, Menjadi Bekal Kehidupan

Peringatan Maulid Nabi di SDN 2 Kertaraharja akhirnya meninggalkan pesan yang lebih panjang daripada durasi acara.

Bahwa mengenal Rasulullah SAW bukan sekadar menghafal kisah hidupnya.

Bahwa mencintai Rasulullah SAW bukan sekadar mengucapkan selawat.

Dan bahwa memperingati Maulid bukan semata-mata soal seberapa meriah sebuah kegiatan digelar.

Ukuran terpentingnya adalah seberapa jauh akhlak Rasulullah SAW mampu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sekolah, nilai itu ditanamkan.

Dari keluarga, nilai itu diperkuat.

Dan di tengah masyarakat, nilai itu diharapkan menjelma menjadi karakter generasi penerus.

Keluarga besar SDN 2 Kertaraharja pun berharap Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter.

Sebuah ikhtiar agar ilmu tumbuh bersama akhlak, kecerdasan berjalan bersama kesantunan, dan generasi muda tidak hanya mampu menjadi anak yang pintar, tetapi juga menjadi manusia yang beradab. (Iwan H)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita