KTA Prabowo di Panggung NU dan Pesan Keras Bung Karno: Kartu Bisa Berlaku Seumur Hidup, Tapi Pengabdian Harus Dibuktikan

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Oleh: Lukman Hakiem, Peminat Sejarah dan Penulis Biografi

METROPAGI.COM – Sebuah kartu kecil tiba-tiba membawa pesan yang jauh lebih besar daripada ukurannya.

Ketika Presiden Prabowo Subianto menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) Nahdlatul Ulama (NU) dari Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dalam penutupan Muktamar ke-35 NU di Jombang, senyum sang presiden menjadi sorotan.

Bukan karena kartunya.

Bukan pula karena seremoni penyerahannya.

Tetapi karena satu pertanyaan sederhana yang mengikutinya:

Apa arti sebuah kartu anggota bagi seorang pemimpin bangsa?

Pertanyaan itu ternyata memiliki gema panjang dalam sejarah Indonesia.

Lebih dari enam dekade sebelumnya, tepatnya 25 November 1962, Presiden Soekarno berdiri di Istora Senayan di hadapan peserta Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah.

Bung Karno ketika itu berbicara tentang kedekatannya dengan Muhammadiyah.

Namun, ia tidak sedang menjadikan keanggotaan sebagai sekadar kebanggaan.

Ia sedang menceritakan sebuah perjalanan.

Sebuah perjalanan yang dimulai sejak usia muda.

Ketika Keanggotaan Berubah Menjadi Pengabdian

Bung Karno mengisahkan bahwa dirinya telah mengenal Muhammadiyah sejak berusia sekitar 15 tahun. Pada masa itu, ia berkesempatan bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Pertemuan tersebut meninggalkan jejak yang panjang.

Bung Karno mengaku bersimpati kepada KH Ahmad Dahlan dan mengikuti gerakan perjuangannya. Pada 1938, ia kemudian resmi menjadi anggota Muhammadiyah.

Artinya, ketika berpidato pada 1962, Bung Karno bukanlah orang yang baru mengenal organisasi tersebut.

Ia telah menjalani perjalanan panjang bersama Muhammadiyah.

Tetapi justru bukan lamanya menjadi anggota yang paling menarik.

Yang jauh lebih menggugah adalah cara Bung Karno memandang keanggotaan.

Ia bahkan meminta agar kontribusinya ditagih.

Kalimat itu sederhana.

Namun jika direnungkan hari ini, maknanya terasa sangat dalam.

Sebab menjadi anggota organisasi bukan sekadar memiliki kartu.

Bukan hanya tercatat dalam daftar.

Bukan pula sebatas mengenakan atribut, menghadiri acara, atau berfoto bersama.

Keanggotaan adalah janji untuk memberi.

Bung Karno bahkan pernah menyampaikan harapan yang sangat personal: jika Allah SWT memberikan umur panjang, ia berharap ketika meninggal dunia, nama Muhammadiyah tetap menyertainya hingga kain kafan.

Di titik itulah sebuah kartu kehilangan makna administratifnya dan berubah menjadi simbol pengabdian.

Dari Jombang ke Senayan, Sebuah Pesan yang Menyeberangi Zaman

Momen Prabowo di Jombang tentu tidak dapat disamakan begitu saja dengan pidato Bung Karno di Senayan.

Zamannya berbeda.

Konteks politiknya berbeda.

Tantangannya pun berbeda.

Namun, keduanya menyisakan satu garis merah yang menarik untuk direnungkan.

Seorang presiden berdiri di hadapan warga NU dengan bangga membawa identitas NU.

Puluhan tahun sebelumnya, seorang presiden berdiri di hadapan warga Muhammadiyah dengan bangga menceritakan perjalanan panjangnya bersama organisasi tersebut.

Dua presiden.

Dua organisasi Islam.

Dua generasi.

Tetapi bertemu pada satu pertanyaan yang sama:

Setelah identitas itu disematkan, apa yang akan diberikan?

Sebab Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan simbol.

Indonesia membutuhkan karya.

Tidak kekurangan orang yang bangga menyebut dirinya bagian dari organisasi.

Indonesia membutuhkan manusia yang bersedia bekerja ketika tidak ada kamera, mengabdi ketika tidak ada tepuk tangan, dan berbuat tanpa menunggu kepentingan politik.

Di situlah ukuran sesungguhnya sebuah keanggotaan.

NU dan Muhammadiyah, Lebih Besar dari Sekadar Kartu

NU dan Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dengan jumlah anggota yang besar.

Keduanya telah menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Indonesia.

Pendidikan, pesantren, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, dakwah, kegiatan sosial, pemberdayaan masyarakat hingga perjuangan kebangsaan merupakan bagian dari jejak panjang organisasi Islam dalam membangun negeri.

Dalam sejarah Muhammadiyah, misalnya, terdapat sejumlah tokoh yang turut memberikan warna penting bagi perjalanan bangsa, seperti Jenderal Besar Soedirman, Jenderal Mayor Kasman Singodimedjo, KH Abdul Kahar Muzakkir, Ki Bagus Hadikusumo dan tokoh-tokoh lainnya.

Bung Karno pun menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Karena itu, ketika Bung Karno berbicara mengenai Muhammadiyah, yang ia bawa bukan sekadar identitas.

Ia membawa pengalaman.

Ia membawa sejarah.

Dan yang paling penting, ia membawa gagasan bahwa organisasi harus menjadi ruang untuk membentuk manusia, menempa karakter, memperjuangkan nilai dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jangan Sampai Kartu Menjadi Lebih Penting daripada Karya

Di era politik modern, simbol terkadang bergerak lebih cepat daripada substansi.

Foto bersama menjadi berita.

Atribut menjadi identitas.

Kartu anggota menjadi kebanggaan.

Keanggotaan menjadi tanda kedekatan.

Tetapi sejarah memiliki ukuran yang berbeda.

Sejarah tidak bertanya berapa banyak kartu yang pernah dimiliki seseorang.

Sejarah bertanya:

Apa yang telah diberikan kepada bangsa?

Pertanyaan tersebut berlaku bagi siapa pun yang membawa nama organisasi.

Sebab organisasi sebesar apa pun akan kehilangan makna jika hanya menjadi tempat untuk mencari pengakuan.

Sebaliknya, organisasi akan menjadi kekuatan besar apabila anggotanya mampu mengubah identitas menjadi kerja nyata.

Itulah mengapa pesan Bung Karno tetap relevan.

Ia tidak meminta agar keanggotaannya sekadar dihormati.

Ia justru meminta kontribusinya ditagih.

Kartu Boleh Seumur Hidup, Pengabdian Jangan Berhenti

KTA NU yang diterima Prabowo disebut berlaku seumur hidup.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada masa berlaku sebuah kartu:

pengabdian tidak boleh memiliki tanggal kedaluwarsa.

Hari ini seseorang boleh menerima kartu anggota.

Besok, ia harus membuktikan manfaatnya.

Hari ini seseorang boleh mengenakan atribut organisasi.

Besok, ia harus menunjukkan nilai yang diperjuangkannya.

Hari ini seorang pemimpin dapat memperlihatkan identitas organisasi di hadapan publik.

Tetapi suatu hari nanti, yang akan berbicara bukan lagi kartu, atribut atau jabatan.

Yang tersisa adalah jejak.

Apa yang pernah dilakukan.

Siapa yang pernah dibantu.

Dan seberapa besar manfaat yang pernah diberikan kepada masyarakat.

Mungkin itulah pesan paling kuat dari perjumpaan simbolik antara KTA Prabowo dan kisah panjang Bung Karno bersama Muhammadiyah.

Kartu adalah identitas. Pengabdian adalah pembuktian.

NU memiliki sejarah panjang pengabdian.

Muhammadiyah memiliki sejarah panjang perjuangan.

Organisasi Islam lainnya pun memiliki jejak masing-masing.

Tetapi semuanya memiliki pekerjaan rumah yang sama: memastikan identitas organisasi tidak berhenti pada kebanggaan, melainkan tumbuh menjadi kekuatan untuk kemaslahatan rakyat.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak dibangun oleh kartu anggota.

Bangsa ini dibangun oleh manusia yang bersedia mengubah identitas menjadi pengabdian, kebanggaan menjadi tanggung jawab, dan organisasi menjadi kekuatan untuk menciptakan kemaslahatan.

Dari Jombang hingga Senayan.

Dari KTA hingga kain kafan.

Pesannya tetap sama:

Menjadi bagian dari sebuah organisasi adalah kehormatan. Tetapi memberi manfaat bagi bangsa adalah kewajiban.[]

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita