Oleh: Lukman Hakiem, Peminat Sejarah dan Penulis Biografi
METROPAGI.COM – Selembar kartu tiba-tiba menjadi begitu penting ketika berada di tangan seorang presiden.
Di Jombang, Presiden Prabowo Subianto tampak sumringah ketika menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) Nahdlatul Ulama (NU) dari Rais ‘Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dalam penutupan Muktamar ke-35 NU.
Bukan sekadar menerima.
Prabowo dengan bangga menunjukkan kartu tersebut kepada publik. Lebih istimewa lagi, KTA itu berlaku seumur hidup.
Adegan itu sekilas tampak sederhana.
Namun sejarah Indonesia ternyata pernah menyimpan adegan yang hampir serupa.
Enam puluh empat tahun sebelumnya, tepatnya 25 November 1962, Presiden Soekarno berdiri di podium penutupan Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah di Istora Senayan, Jakarta.
Bung Karno juga menunjukkan kebanggaannya.
Tetapi ada perbedaan yang sangat menarik.
Jika Prabowo datang sebagai presiden yang menerima KTA NU, Bung Karno datang sebagai presiden yang sekaligus mengaku sebagai anggota Muhammadiyah.
Dan kisah Bung Karno kemudian menyimpan sebuah kalimat yang terasa semakin relevan untuk dibicarakan hari ini:
“Saya minta agar mulai sekarang ditagihlah kontribusi saya.”
Di sinilah cerita tentang kartu anggota berubah menjadi cerita tentang tanggung jawab.
Kartu Bisa Menjadi Simbol, Kontribusi Menjadi Ukuran
Bung Karno mengenal Muhammadiyah sejak usia 15 tahun.
Pada usia muda itu, ia bertemu dengan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Pertemuan tersebut membuat Bung Karno bersimpati kepada KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah.
Dengan gaya khasnya, Bung Karno mengatakan, “Sehingga saya mengintil kepadanya.”
Pada 1938, Bung Karno resmi menjadi anggota Muhammadiyah.
Ketika menyampaikan pidato pada Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah pada 1962, berarti sudah hampir seperempat abad ia menjadi bagian dari organisasi tersebut.
Bung Karno bahkan pernah meminta agar namanya tidak dicoret dari Muhammadiyah.
“Tahun 1946 saya minta supaya nama saya jangan dicoret dari Muhammadiyah.”
Ia kemudian mengungkapkan harapan yang jauh lebih dalam: jika diberi umur panjang oleh Allah SWT, ia ingin meninggal dengan tetap membawa nama Muhammadiyah.
Ini bukan lagi persoalan kartu.
Ini soal identitas.
Ini soal ikatan.
Dan lebih dari itu, ini soal pengabdian.
Bung Karno Justru Minta Ditagih
Bagian paling menarik dari pidato Bung Karno bukan ketika ia membanggakan statusnya sebagai anggota Muhammadiyah.
Justru ketika ia meminta organisasi tersebut menagih kontribusinya.
Bung Karno mengaku, sejak menjadi Presiden Republik Indonesia, dirinya belum pernah ditagih kontribusi.
Ia kemudian meminta agar kontribusinya mulai ditagih.
Bahkan ia menggunakan istilah met terugwerkende kracht, yang kurang lebih bermakna berlaku surut.
Kalimat tersebut layak direnungkan dalam-dalam.
Sebab menjadi anggota organisasi seharusnya tidak berhenti pada kebanggaan menyandang status.
Ada kewajiban setelah kartu diterima.
Ada kerja setelah nama tercatat.
Ada pengabdian setelah identitas melekat.
Di sinilah ukuran seseorang sebagai anggota seharusnya tidak berhenti pada seberapa bangga ia menunjukkan kartunya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang sudah ia berikan?
Dari Prabowo, Kita Bisa Belajar tentang Simbol
Kembali ke Jombang.
Prabowo menerima KTA NU dengan wajah sumringah.
Momen tersebut tentu memiliki makna tersendiri. NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan sejarah panjang dalam perjalanan bangsa.
Kedekatan seorang presiden dengan organisasi kemasyarakatan Islam tentu dapat menjadi energi positif selama diarahkan untuk kepentingan kebangsaan.
Namun setelah simbol ditampilkan, ada pertanyaan yang jauh lebih substantif.
Apa makna KTA tersebut bagi perjalanan ke depan?
Apakah ia hanya menjadi simbol kedekatan?
Ataukah menjadi pintu menuju kontribusi yang lebih besar?
Pertanyaan itu bukan semata-mata ditujukan kepada Prabowo.
Pertanyaan tersebut berlaku bagi siapa pun yang mengaku menjadi bagian dari organisasi.
Sebab organisasi tidak membutuhkan anggota yang hanya bangga memakai atribut.
Organisasi membutuhkan anggota yang mau bekerja.
Muhammadiyah dan Orang-Orang yang Membentuk Indonesia
Bung Karno tidak perlu berpanjang-panjang menjelaskan jasa Muhammadiyah bagi Indonesia.
Sejarah telah mencatatnya.
Muhammadiyah membangun pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial dan dakwah. Lebih dari itu, Muhammadiyah ikut melahirkan kader-kader yang kemudian mengambil bagian dalam perjuangan bangsa.
Ada Jenderal Soedirman.
Ada Jenderal Mayor Kasman Singodimedjo.
Ada KH Abdul Kahar Muzakir.
Ada Ki Bagus Hadikusumo.
Dan masih banyak nama lain yang jejaknya melekat dalam sejarah Indonesia.
Bung Karno sendiri merupakan bagian dari perjalanan tersebut.
Karena itu, berbicara mengenai Muhammadiyah tidak semata-mata berbicara tentang sebuah organisasi Islam.
Kita sedang berbicara tentang salah satu mata rantai yang ikut membentuk perjalanan Indonesia.
NU dan Muhammadiyah: Bukan Sekadar Nama Besar
NU dan Muhammadiyah memiliki sejarah, karakter dan tradisi yang berbeda.
Tetapi keduanya memiliki satu titik temu yang sangat penting: Indonesia.
Keduanya telah melewati zaman.
Keduanya mengalami perubahan politik.
Keduanya melahirkan tokoh.
Keduanya membangun lembaga.
Dan keduanya memiliki kontribusi dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, ketika seorang presiden menunjukkan KTA sebuah organisasi Islam, masyarakat tidak seharusnya hanya melihat kartunya.
Lihatlah pesan yang lebih besar di baliknya.
Sebab simbol tanpa karya akan cepat kehilangan makna.
Kartu Seumur Hidup, Pengabdian Jangan Seumur Jagung
Ada ironi yang menarik.
KTA yang diterima Prabowo disebut berlaku seumur hidup.
Tetapi pengabdian tidak boleh hanya hidup selama kartu itu berlaku.
Pengabdian harus dibuktikan setiap hari.
Bung Karno memberikan contoh yang berbeda.
Ia bukan hanya mengatakan dirinya anggota Muhammadiyah. Ia justru meminta agar kontribusinya ditagih.
Ini adalah standar moral yang menarik.
Menjadi anggota bukan soal apa yang kita dapatkan dari organisasi, tetapi apa yang dapat kita berikan kepada organisasi dan bangsa.
Maka dari Jombang hingga Jakarta, dari Prabowo hingga Bung Karno, kita menemukan satu benang merah:
Kartu boleh menjadi simbol.
Atribut boleh menjadi identitas.
Pidato boleh menjadi pesan.
Tetapi pada akhirnya, karya adalah bukti.
Dan jika suatu hari sejarah kembali bertanya siapa yang paling berjasa bagi bangsa, jawabannya bukan mereka yang paling sering menunjukkan kartu anggota.
Melainkan mereka yang bersedia bekerja, berkorban dan mengabdi ketika tidak ada kamera yang merekam.
Prabowo menunjukkan KTA NU. Bung Karno meminta kontribusinya ditagih.
Mungkin di antara dua peristiwa itu tersimpan satu pelajaran sederhana untuk kita semua:
Jangan hanya bangga menjadi bagian dari sejarah. Jadilah bagian yang membuat sejarah.[]