BEKASI, METROPAGI.COM – Suasana Iduladha 1447 Hijriah di lingkungan Perum Mayang Pratama, Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, berlangsung hangat dan penuh makna, Rabu (27/5/2026).
Sejak pagi buta, gema takbir menggema dari Mushola Al-Jihad, menyambut kedatangan warga yang memadati area salat Iduladha dengan penuh kekhusyukan.
Anak-anak, orang tua hingga kalangan pemuda tampak berbaur dalam nuansa religius yang sarat kebersamaan.
Pelaksanaan Salat Iduladha dimulai pukul 06.45 WIB setelah jamaah berdatangan sejak pukul 06.30 WIB.
Ketua DKM Al-Jihad, H. Rasman, sebelumnya mengimbau warga hadir lebih awal demi menjaga ketertiban dan kenyamanan ibadah.
Selain itu, jamaah juga diingatkan menjalankan sunnah Iduladha seperti tidak makan sebelum salat, memakai wewangian, serta membawa infak terbaik sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
Usai salat, kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban sekitar pukul 07.45 WIB. Momentum tersebut menjadi bagian dari semangat berbagi dan memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Namun yang paling menyita perhatian jamaah adalah khutbah Iduladha yang disampaikan Ustadz Syamsul Hidayat.
Dalam ceramahnya, ia mengangkat pesan keagamaan yang dikaitkan langsung dengan tantangan kehidupan modern di era digital.
Menurutnya, Iduladha tidak boleh dimaknai sekadar sebagai ritual tahunan penyembelihan hewan kurban, melainkan juga momentum membersihkan diri dari sikap egois dan individualistis.
“Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, keserakahan, dan individualisme yang ada dalam diri kita,” ujar Ustadz Syamsul Hidayat di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung pelajaran besar tentang kepatuhan kepada Allah SWT, pengorbanan, hingga pentingnya komunikasi yang baik dalam keluarga.
Menurutnya, terdapat empat nilai utama yang relevan diterapkan dalam kehidupan masa kini, yakni spiritualitas dan ketaatan kepada Allah SWT, kepedulian sosial melalui semangat berbagi, komunikasi sehat dalam keluarga, serta menjaga integritas moral di tengah derasnya arus modernisasi.
Dalam khutbahnya, Ustadz Syamsul juga menyoroti fenomena masyarakat modern yang dinilai semakin aktif di dunia maya namun mulai renggang dalam kehidupan sosial nyata.
“Kita mudah dekat dengan orang yang jauh melalui media sosial, tetapi terkadang justru jauh dengan tetangga sendiri,” katanya.
Ia pun mengingatkan jamaah agar bijak menggunakan media digital dengan menghindari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta memanfaatkan teknologi untuk memperkuat ukhuwah dan kepedulian sosial.
Selain bernilai spiritual, pembagian daging kurban juga disebut sebagai simbol nyata keadilan sosial di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi tekanan akibat dampak krisis global.
Menutup khutbahnya, ia mengajak umat Islam menjadikan sisa usia sebagai ladang amal dan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar.
“Iman yang hidup bukan hanya tampak dalam kesalehan pribadi, tetapi juga dalam kesalehan sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Pelaksanaan Iduladha di Mushola Al-Jihad berlangsung lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan.
Momentum tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga ruang mempererat silaturahmi dan membangkitkan kembali semangat kebersamaan warga di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. (DeHa Aja)