Metropagi– Di sudut jalan pintu masuk Perumahan Buni Anggrek, Karang Satria, Tambun, ada satu warung sederhana yang tak pernah benar-benar sepi cerita. Warung itu milik Bu Ning—perempuan 64 tahun yang senyumnya seolah menolak tunduk pada usia.
Sekilas, tak ada yang terlalu mencolok dari tempat itu. Meja kayu, kursi seadanya, aroma kopi yang akrab, dan panci nasi yang tak pernah benar-benar dingin. Namun, begitu duduk dan menyapa, pengunjung akan segera tahu: yang membuat warung ini hidup bukan hanya makanannya, melainkan sosok di baliknya.
Bu Ning, begitu semua orang memanggilnya, punya energi yang sulit dijelaskan. Wajahnya segar, geraknya cekatan, dan tawanya—ringan, lepas, dan menular. Ia menyebut dirinya “si pejabat”, dengan logat khas peranakan Jawa-Batak yang justru membuat candanya semakin renyah. Tak butuh waktu lama bagi siapa pun untuk merasa akrab.
“Di sini bukan cuma jual nasi sama kopi,” katanya sambil tersenyum, “tapi juga tempat orang buang capek.”
Dan benar saja. Warung itu seperti ruang jeda bagi banyak orang. Ada yang datang sekadar menyeruput kopi sebelum pulang, ada pula yang sengaja mampir untuk berlama-lama, selonjoran, dan melepas penat setelah hari yang panjang.
Tak jarang, obrolan ringan berubah jadi cerita hidup, diselingi tawa khas Bu Ning yang hangat.
Meski sederhana, warung itu cukup luas untuk menampung kehangatan yang ia tawarkan. Tak ada kesan tergesa. Waktu seolah berjalan lebih pelan di sana.
Secara resmi, warung itu tutup pukul 21.00. Namun aturan itu sering kali cair. Jika masih ada pelanggan yang datang—atau sekadar butuh teman bicara—Bu Ning tak pernah benar-benar menolak.
“Kalau masih ada yang mau ngobrol, ya ditemenin. Masa disuruh pulang,” ujarnya ringan, sambil menuangkan kopi.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya warung kecil di pinggir jalan. Tapi bagi mereka yang pernah singgah, tempat itu adalah ruang sederhana yang menghadirkan rasa pulang—meski hanya sebentar.
Dan Bu Ning, dengan segala canda dan ketulusannya, adalah alasan mengapa orang-orang terus kembali.