METROPAGI.COM, KABUPATEN BEKASI – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Halal Bihalal 1447 Hijriah yang digelar di Masjid Baitul Makmur, Perumahan Graha Melasti Rumahku, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Sabtu (4/4/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Sucikan Hati, Jalin Silaturahmi dan Pererat Ukhuwah dalam Indahnya Kebersamaan” ini menghadirkan dai muda, KH Fikri Haikal, putra almarhum KH Zainuddin MZ yang dikenal sebagai “Da’i Sejuta Umat”.
Acara tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Bekasi dari Partai Demokrat, Matam, Ketua RT 005 RW 002, Sahri Ramadhan, serta ratusan warga yang memadati area masjid dengan antusias.
Dalam tausiyahnya, KH Fikri Haikal mengajak jamaah untuk merenungkan makna kehadiran dalam majelis ilmu.
Ia mengisahkan tiga golongan manusia yang datang ke majelis Nabi Muhammad SAW, yakni mereka yang bersegera duduk di depan, yang tetap bertahan mendengarkan, dan yang memilih pulang tanpa mengambil manfaat.
“Kesempatan hadir di majelis ilmu adalah anugerah. Jangan sampai kita menyia-nyiakannya,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia juga menekankan pentingnya tiga kekuatan dalam menjalankan ibadah haji dan umrah, yakni kemampuan harta (maliyah), fisik (badaniyah), dan hati (qolbiyah).
Menurutnya, ketiganya harus berjalan seimbang agar ibadah dapat terlaksana dengan baik.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa niat menjadi fondasi utama. Tanpa niat yang kuat, kemampuan materi dan fisik tidak akan mampu menggerakkan seseorang menuju Tanah Suci.
“Jangan pernah lemah dalam niat. Soal rezeki dan kesehatan adalah urusan Allah, tetapi niat harus terus dijaga dan dikuatkan,” tegasnya.
Selain itu, KH Fikri Haikal juga mengingatkan pentingnya kepekaan sosial sebagai bagian dari implementasi ibadah.
Ia menjelaskan bahwa puasa Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih empati terhadap sesama.
Menurutnya, membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan memiliki nilai keutamaan yang besar dan menjadi bagian dari ibadah yang hakiki.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk hati yang lembut dan peduli. Dari situ kita diajarkan untuk ringan tangan membantu sesama,” ungkapnya.
Ia pun mengingatkan agar ibadah tidak berhenti pada simbol semata. Kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, lanjutnya, merupakan cerminan dari keimanan yang hidup.
“Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi menutup mata terhadap kesulitan orang lain. Kepedulian sosial adalah wujud nyata dari keimanan,” tandasnya.
Kegiatan Halal Bihalal ini menjadi momentum penting bagi warga untuk tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian sosial, serta meningkatkan kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.(*)