Dua Labu Siam dan Nyawa yang Melayang di Talaga

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

PAGI  di Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Cianjur , Jawa Barat, biasanya berjalan pelan. Kabut tipis menggantung di antara kebun-kebun, dan warga memulai hari dengan rutinitas sederhana. Namun Sabtu (28/2/2026) lalu, ketenangan itu pecah oleh peristiwa yang menyisakan duka panjang.

 

Minta (56), seorang pria paruh baya, diduga tepergok mengambil dua buah labu siam dari kebun warga. Hanya dua buah. Bukan karung, bukan hasil panen sepetak. Dua labu siam yang kelak menjadi pangkal tragedi.

 

Kebun itu milik warga setempat dan dijaga Ujang Ahmad (40). Saat memergoki Minta, Ujang disebut langsung mengejar hingga ke rumah korban. Di depan rumah sederhana itu, adu mulut tak terhindarkan. Suara meninggi, emosi memuncak. Warga sekitar berhamburan keluar, mencoba melerai.

 

Situasi sempat mereda. Minta mengakui perbuatannya. Ia bahkan menunjukkan dua labu siam yang diambilnya kepada saksi-saksi yang berdiri menyaksikan ketegangan itu. Sejenak, semuanya tampak selesai.

 

Namun rupanya tidak.

 

Tak lama kemudian, Minta terlihat berjalan sempoyongan. Tangannya memegangi kepala, mengeluh pusing. Wajahnya pucat. Tubuhnya melemah. Warga yang tadi menjadi penonton kini berubah menjadi penolong. Ia dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi yang terus menurun.

 

Senin (2/3/2026) siang, kabar duka itu datang. Minta mengembuskan napas terakhirnya.

 

Kapolsek Cugenang, Kompol Usep Nurdin, menjelaskan bahwa korban masih dalam keadaan sadar saat tiba di rumah sakit. “Korban sempat dirawat di IGD, namun pada Senin siang dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya, dikutip dari iNews Cianjur, Rabu (4/3/2026).

 

Kini, jenazah Minta berada di kamar jenazah RSUD Sayang Cianjur untuk menjalani autopsi. Dari pemeriksaan luar, ditemukan sejumlah luka: benjolan di bagian belakang kepala, memar dan lecet di dahi, memar di kelopak mata kanan, leher, lengan, siku, serta luka di kedua kaki. Ada pula bekas darah di lubang hidung.

 

“Pemeriksaan awal mengindikasikan adanya luka dalam akibat kekerasan. Namun, kami masih menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematian,” kata Usep.

 

Polisi telah mengamankan Ujang Ahmad untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Berdasarkan informasi sementara, ia diduga tersulut emosi lantaran hasil kebunnya kerap hilang dan saat itu memergoki korban mengambil labu siam.

 

Dua buah labu siam—yang nilainya mungkin tak seberapa—kini tersimpan sebagai barang bukti di Unit Reskrim Polsek Cugenang. Benda sederhana yang mendadak menjadi simbol rapuhnya batas antara amarah dan penyesalan.

 

Di Desa Talaga, cerita tentang Minta menyisakan bisik-bisik pilu. Tentang kemiskinan atau sekadar kelalaian, tentang emosi yang tak terkendali, dan tentang bagaimana sebuah pertikaian kecil bisa berujung pada kehilangan yang tak tergantikan.

 

Polisi masih mendalami keterangan para saksi dan menunggu hasil autopsi untuk mengungkap secara utuh kronologi serta penyebab kematian. Sementara itu, di kebun-kebun Cugenang, labu siam tetap tumbuh seperti biasa—tanpa pernah tahu bahwa dua di antaranya telah mengubah takdir seorang manusia.( Bintang SM)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita