METROPAGI.COM, KARAWANG – Di tengah meningkatnya tensi global akibat konflik di Timur Tengah, dampaknya mulai merambat ke berbagai sektor strategis, termasuk industri pupuk.
Gangguan rantai pasok energi dan komoditas dunia memicu fluktuasi harga urea internasional serta tersendatnya distribusi dari produsen utama global.
Namun di balik situasi tersebut, Indonesia bergerak cepat menjaga stabilitas sektor vital: ketahanan pangan.
Di tengah ketidakpastian global, PT Pupuk Kujang mengambil langkah sigap dengan memastikan operasional pabrik tetap optimal.
Perusahaan yang berada di bawah naungan PT Pupuk Indonesia (Persero) ini memperketat pengawasan produksi guna menjaga pasokan pupuk bagi petani tetap aman.
Direktur Utama Pupuk Kujang, Budi Santoso Syarif, menegaskan bahwa keandalan fasilitas produksi menjadi kunci utama menghadapi tekanan global.
Pabrik Kujang 1A dan 1B, menurutnya, harus terus beroperasi tanpa hambatan teknis.
“Stabilitas produksi adalah kunci utama agar kebutuhan petani tidak terganggu oleh dinamika harga di luar negeri,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Meski peluang ekspor terbuka akibat terganggunya pasokan global, Pupuk Kujang tetap berfokus pada pemenuhan kebutuhan domestik.
Kebijakan ekspor sendiri berada di bawah kewenangan holding, sementara perusahaan memastikan produksi berjalan efisien dan berkualitas.
Hingga awal April 2026, stok pupuk urea di wilayah distribusi perusahaan tercatat masih dalam batas aman sesuai ketentuan pemerintah.
Pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari lini produksi di Cikampek hingga distribusi ke berbagai daerah.
Berdasarkan data per 6 April 2026, stok pupuk urea bersubsidi di Jawa Barat mencapai 33.568,7 ton.
Sementara di Kabupaten Subang, ketersediaan pupuk berada di angka 1.272,8 ton—menunjukkan kesiapan menghadapi musim tanam di tengah tekanan global.
Keberhasilan menjaga stabilitas produksi ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah dalam menjamin pasokan gas bumi sebagai bahan baku utama industri pupuk.
Sebelumnya, Satya Hangga Yudha Widya Putra menegaskan bahwa sektor pupuk menjadi prioritas dalam alokasi gas nasional.
Langkah strategis ini dinilai krusial untuk memastikan produksi pupuk tetap berjalan di tengah dinamika global yang tidak menentu.
“Kami memastikan kebutuhan petani domestik adalah prioritas yang tidak bisa ditawar,” tegas Budi.
Di saat dunia diliputi ketidakpastian, langkah Pupuk Kujang menjadi bukti bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan di sawah, tetapi juga oleh kekuatan industri hulu dalam menghadapi badai global. (Deny Suhendar)