Home Religi

Rakernas Mushida 2026 Dibuka, KH Naspi Arsyad Tekankan Ketahanan Bangsa Ditentukan Inovasi

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

METROPAGI.COM, JAKARTA – Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, konsep ketahanan bangsa kini mengalami pergeseran signifikan.

 

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah (Mushida) 2026.

 

Kegiatan yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin (6/4/2026), menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan arah gerak organisasi perempuan Muslimat Hidayatullah di tengah tantangan global.

 

Dalam sambutannya, Naspi menegaskan bahwa kekuatan suatu bangsa saat ini tidak lagi semata bertumpu pada aspek militer.

 

Menurutnya, indikator ketahanan telah berkembang mencakup kemampuan mengelola energi, stabilitas logistik, hingga kekuatan cadangan devisa.

 

“Daya tahan bangsa hari ini ditentukan oleh kemampuan mengelola energi, persenjataan, hingga cadangan devisa,” ujarnya.

 

Ia menyoroti berbagai konflik global seperti perang Ukraina–Rusia dan ketegangan di Timur Tengah yang berdampak luas terhadap berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga sosial.

 

Kondisi tersebut, kata dia, memaksa setiap negara untuk adaptif dalam merumuskan kebijakan domestik agar tidak tertinggal dari arus perubahan global.

 

Mengutip hasil dialog antara pimpinan organisasi masyarakat Islam dengan Kementerian Luar Negeri, Naspi menilai bahwa kebutuhan dasar seperti pangan dan pupuk tetap menjadi fondasi utama ketahanan bangsa. Dalam situasi krisis, kebutuhan tersebut tidak dapat tergantikan.

 

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya inovasi sebagai kunci keberlanjutan, baik dalam konteks organisasi maupun kehidupan berbangsa.

 

Menurutnya, keberhasilan tidak lagi diukur dari besarnya organisasi atau kekuatan finansial semata, tetapi dari kemampuan melahirkan terobosan baru.

 

“Inovasi adalah hasil dari motivasi kuat dan proses berpikir yang melibatkan nilai-nilai ilahiah,” katanya.

 

Naspi menjelaskan bahwa inovasi dan transformasi merupakan dua hal yang saling berkaitan.

 

Inovasi menjadi pemicu perubahan, sementara transformasi merupakan wujud nyata dari penerapan ide secara menyeluruh dan berkelanjutan.

 

Untuk itu, ia menguraikan tiga pilar utama yang perlu diperkuat dalam tubuh Mushida.

 

Pertama, perubahan pola pikir yang kritis dan berani mengambil risiko.

 

Kedua, optimalisasi proses melalui eksperimen dan evaluasi berkelanjutan.

 

Ketiga, penyusunan strategi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

 

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya membangun budaya organisasi yang terbuka terhadap kolaborasi serta manajemen perubahan yang terstruktur.

 

Naspi menambahkan, perjalanan Hidayatullah selama ini menjadi bukti nyata pentingnya inovasi, mulai dari pengembangan konsep pesantren berbasis perkampungan hingga transformasi kelembagaan pada tahun 2000 menjadi organisasi kemasyarakatan.

 

Menutup sambutannya, ia berharap Rakernas Mushida 2026 dapat menjadi titik awal lahirnya gagasan-gagasan strategis yang mampu memperkuat peran perempuan dalam membangun ketahanan umat dan bangsa.

 

“Rakernas ini harus menjadi titik tolak lahirnya gagasan-gagasan baru yang relevan dan berdampak luas,” pungkasnya.(*)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita