Dua Gelombang Mudik 2026: Ketika Jalan Pulang Diprediksi Lebih Padat dari Biasanya

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MUDIK  selalu menjadi cerita tentang rindu yang ingin segera ditunaikan. Setiap tahun, jutaan orang meninggalkan kota untuk kembali ke kampung halaman, membawa harapan bertemu keluarga saat Lebaran. Namun pada 2026 ini, perjalanan pulang diperkirakan akan menghadapi kepadatan yang datang dalam dua gelombang besar.

 

Korps Lalu Lintas Polri memprediksi puncak arus mudik Lebaran tahun ini akan terjadi pada 14–15 Maret dan kembali memuncak pada 18–19 Maret 2026. Prediksi tersebut disampaikan oleh Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri, Faizal, dalam diskusi persiapan mudik di kompleks parlemen.

 

Menurut Faizal, kepadatan dua gelombang ini menjadi dasar bagi aparat untuk mempersiapkan pengamanan dan pengaturan lalu lintas secara lebih matang. Polisi bersama berbagai instansi terkait menyiapkan personel, posko, hingga sistem pemantauan lalu lintas untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan.

 

Fokus pengamanan akan diarahkan pada lima titik kerawanan utama selama arus mudik.
Yang pertama adalah jalan tol dan rest area. Lokasi ini diprediksi menjadi titik paling padat karena banyak pemudik berhenti untuk beristirahat.

 

Untuk mengatasi kepadatan, Korlantas menyiapkan sistem digital yang memantau jumlah kendaraan yang masuk dan keluar dari rest area secara real-time. Informasi ketersediaan parkir nantinya akan disebarkan melalui radio, media sosial, hingga petugas di lapangan agar pengendara bisa mengetahui kondisi terkini.

 

Titik kedua adalah jalan arteri dan jalan nasional, terutama yang berada di sekitar pasar tumpah, pusat perbelanjaan, serta persimpangan yang membutuhkan pengaturan langsung dari petugas.

 

Kerawanan berikutnya terdapat di pelabuhan penyeberangan, bandara, terminal, dan stasiun. Di lokasi ini, polisi mengantisipasi dampak cuaca sekaligus memastikan sistem antrean berjalan lancar, termasuk dengan menyiapkan dermaga tambahan di beberapa pelabuhan.

 

Selain itu, perhatian juga diberikan pada tempat wisata dan lokasi modifikasi kendaraan yang sering menjadi titik keramaian saat libur panjang. Untuk itu, Polri akan menempatkan sejumlah pos pemeriksaan atau checkpoint di titik strategis, salah satunya di KM 81 jalur Jakarta–Cikampek.
Titik terakhir yang menjadi perhatian adalah tempat ibadah, yang diprediksi menjadi pusat konsentrasi massa selama Ramadan dan Lebaran.

 

Dalam pengamanan mudik, polisi juga bekerja sama dengan instansi perhubungan dan tenaga kesehatan. Pengemudi yang terdeteksi mengalami kelelahan akan diminta berhenti untuk beristirahat demi keselamatan perjalanan.

 

“Jika pengemudi ditemukan kelelahan, kami akan memaksa mereka untuk istirahat,” kata Faizal.

 

Untuk membantu mengurai kepadatan lalu lintas, pemerintah juga menyiapkan sejumlah ruas tol tambahan. Dua di antaranya adalah Tol Jabar Selatan ruas Cipeuyeum–Cisokan dan Tol Sukabumi, yang diharapkan bisa menjadi jalur alternatif dan mengurangi beban kendaraan di jalur utama, termasuk di kawasan Pasar Cibadak yang kerap menjadi titik kemacetan.

 

Di balik berbagai skenario rekayasa lalu lintas dan kesiapan aparat, mudik tetap menjadi perjalanan emosional bagi jutaan orang Indonesia. Jalanan mungkin akan lebih padat dari biasanya, tetapi bagi para pemudik, setiap kilometer perjalanan tetap terasa berharga—karena di ujungnya ada rumah, keluarga, dan rindu yang akhirnya terbayar. ( bintang sm)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita