Home Daerah

166.579 Pengungsi Bertahan Hidup Dalam Ketidakpaatian

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Metropagi– Bencana hidrometeorologi yang menerjang tiga provinsi di Pulau Sumatera—Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—perlahan seolah tenggelam dari ingatan publik. Hampir dua bulan berlalu, sorotan meredup, perhatian berpindah. Namun bagi para pengungsi, waktu justru terasa berhenti di titik kehilangan.

 

Hingga 16 Januari 2026, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 166.579 jiwa masih hidup dalam ketidakpastian di pengungsian. Mereka bangun dan tidur di tenda-tenda darurat, bertahan dari panas yang menyengat di siang hari dan dingin yang menusuk di malam hari. Setiap hari dilalui dengan kecemasan yang sama: sampai kapan harus hidup seperti ini?

 

Tak sedikit dari mereka yang terpaksa menumpang di rumah sanak saudara. Tanpa bantuan uang dari pemerintah, mereka hidup dengan perasaan serba salah—ingin bertahan, namun juga tak ingin menjadi beban. Harga diri perlahan terkikis, sementara kebutuhan hidup terus menuntut dipenuhi.

 

Di pengungsian, anak-anak menjadi saksi paling nyata dari kerasnya situasi. Tubuh mereka mulai rapuh, sering sakit, rentan terhadap penyakit. Ruang bermain berubah menjadi hamparan terpal, dan masa kanak-kanak mereka terampas oleh keadaan yang tak pernah mereka pilih.

 

Di tengah penderitaan itu, pemerintah dan BNPB berupaya menghadirkan harapan lewat pembangunan hunian sementara (huntara). Bagi para pengungsi, huntara bukan sekadar bangunan, melainkan harapan untuk kembali hidup lebih layak—memiliki ruang aman untuk beristirahat, tempat berlindung yang pantas, dan sedikit rasa normal setelah trauma panjang.

 

Saat ini, 781 unit huntara telah dinyatakan siap huni, salah satunya di Aceh Tamiang. Namun jalan menuju pemulihan masih jauh. Sebanyak 5.738 unit masih dalam tahap pembangunan, dari total 27.860 unit yang diajukan di tiga provinsi terdampak.

 

Pemerintah menargetkan penyelesaian huntara sebelum bulan Ramadan, agar para pengungsi dapat menyambut bulan suci tidak lagi dalam kondisi terkatung-katung, tetapi di tempat yang lebih layak untuk disebut rumah—meski sementara.

 

Sebagai penopang hidup, pemerintah juga menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600.000 per bulan bagi keluarga dengan rumah rusak berat. Dana ini menjadi satu-satunya harapan untuk menyewa tempat tinggal sambil menunggu hunian tetap (huntap) terwujud.

 

Namun di balik deretan angka dan target, ada manusia-manusia yang masih menunggu kepastian. Mereka bukan sekadar statistik bencana, melainkan keluarga, anak-anak, dan orang tua yang ingin kembali hidup normal. Dan meski banyak yang mulai melupakan, para pengungsi ini masih bertahan—menunggu uluran tangan, perhatian, dan kepedulian yang tak ikut memudar. ( fitri)

 

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita