LIMA PULUH KOTA, METROPAGI.COM – Pagi bahkan belum benar-benar terbit saat suara motor tua milik Silvatri Reza Vianda memecah sunyi hutan Nagari Maek.
Di balik perjalanan itu, tersimpan kisah tentang tekad seorang guru yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan demi menyalakan cahaya pendidikan di pelosok negeri.
Perempuan yang akrab disapa Bu Icha ini telah dua tahun mengabdi sebagai guru di SDN 08 Nenan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, sejak menerima SK PPPK.
Namun, tugasnya tidak hanya soal mengajar di ruang kelas—melainkan juga menaklukkan medan ekstrem yang menjadi satu-satunya akses menuju sekolah.
Jalur tanah licin, tanjakan curam, hingga kubangan lumpur pekat menjadi “menu harian” yang harus dilalui.
Tak jarang, ia harus turun dari motor, mendorong, bahkan memapah kendaraan agar bisa melewati titik-titik sulit.
“Mendorong dan memapah motor hingga terjatuh sudah menjadi rutinitas hampir setiap hari. Saya dan rekan benar-benar kesulitan melewati beberapa titik ekstrem,” ungkapnya, Kamis (9/4/2026).
Ancaman di perjalanan bukan hanya soal fisik. Bu Icha pernah mengalami rem motor blong di jalur sepi tanpa sinyal.
Dalam kondisi tersebut, ia hanya bisa menunggu dengan cemas hingga bantuan datang.
Hujan deras yang kerap turun di tengah perjalanan juga memperparah risiko, sementara tempat berteduh nyaris tak tersedia.
“Batin hanya bisa berdoa, semoga motor tidak rusak di jalan dan segera sampai ke daerah pemukiman,” tuturnya.
Dalam unggahan video di akun TikTok pribadinya, terlihat momen dramatis saat ia harus menghadapi sungai yang tiba-tiba meluap.
Tanpa jaringan komunikasi, ia hanya bisa menunggu bantuan warga untuk bisa melintas dengan aman.
Namun, semua perjuangan itu seolah sirna ketika Bu Icha tiba di sekolah. Sambutan hangat dari 114 siswa menjadi energi baru yang menghapus lelah perjalanan.
“Telinga saya sudah diaktifkan dengan seruan ‘ibuuuk… ibuuuk…’. Di situlah semua penat hilang. Sentuhan tangan mungil mereka jadi penghangat di pagi hari,” katanya dengan penuh haru.
Bagi Bu Icha, mengajar bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. Ia percaya, di balik keterbatasan fasilitas, tersimpan harapan besar untuk masa depan anak-anak di daerah tersebut.
Ia optimistis, dalam 10 hingga 12 tahun mendatang, para siswa itu akan tumbuh menjadi generasi yang mampu membawa perubahan bagi daerahnya.
Kisah perjuangannya yang sempat viral di media sosial kini mulai mendapat perhatian.
Rencana pembangunan jembatan untuk mempermudah akses menuju sekolah pun mulai dibahas.
Meski demikian, ia berharap perbaikan jalan juga menjadi prioritas, mengingat kondisi tanah liat yang rawan membahayakan, terutama saat hujan.
Selama ini, warga setempat memang rutin bergotong royong memperbaiki jalan. Namun upaya tersebut kerap terkendala kondisi alam yang sulit diprediksi.
Di akhir ceritanya, Bu Icha menitipkan pesan penuh makna bagi para guru yang bertugas di pelosok negeri.
“Semoga rasa syukur kita lebih besar dari luka yang kita rasakan di jalan. Walaupun kita kalah di sarana, semoga kita tidak kalah dalam mendidik anak bangsa,” pungkasnya.
Kisah Bu Icha menjadi potret nyata bahwa pendidikan di Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada dedikasi dan keberanian para guru yang rela menembus batas, demi memastikan setiap anak bangsa tetap mendapatkan haknya untuk belajar. (Dudun Hamidullah)